Jalur Busway Bikin Pendapatan Menurun

Deretan pelek terpampang rapi di atas rak kayu. Berbagai merek ada di sana, TFT Racing, Brabus, Wald dan beberapa lainnya. Semua nampak mengkilat seperti baru keluar dari pabriknya. Padahal sebenarnya pelek-pelek tersebut merupakan pelek bekas.

Seorang pria dengan kaos oblong putih yang sudah lusuh terlihat sibuk berbicara kepada pria berpenampilan rapi. Si kaos oblong terlihat menawarkan angka kepada si rapi. Si rapi tidak setuju, ia menawarkan angka yang lainnya. Keduanya terlihat saling ngotot mempertahankan angka masing-masing. Tapi akhirnya si kaos mengangguk, meskipun sebelumnya terlihat lama berpikir.

Keduanya bersalaman. Tak lama kemudian si rapi menyerahkan berlembar-lembar uang ratusan ribu kepada si kaos oblong. Dan si kaos oblong menaikkan sebuah pelek ke dalam mobil kijang si rapi. “Dia nawarnya keterlaluan sih, jadi lama saya lepasnya.” ungkap si kaos oblong yang ternyata bernama Herman Hardian Saputra.

Herman adalah penjual pelek bekas untuk mobil yang nongkrong di daerah Simprug, Jalan Tengku Nyak Arif, Kebayoran, Jakarta Selatan. Herman bercerita bahwa dia sudah berjualan di tempat itu sejak tahun 1997.

Untuk mendapatkan pelek tersebut ada orang yang langsung menjual kepadanya. Tetapi selain itu ada juga yang secara rutin mengantarkan kepadanya. Jika menerima pelek cacat, Herman akan memperbaikinya terlebih dahulu. Pelek peyang akan ia pres dulu di daerah Palmerah. Sedangkan pelek yang pecah atau retak ia tambal ke bengkel las aluminium di daerah Fatmawati. Setelah diperbaiki, baru kemudian pelek tersebut dicat dan siap dipajang.

Biasanya, ia menjual 4 buah pelek untuk satu setnya. Tetapi kadang-kadang jika ia mendapat yang satu set yang isinya  lima. Untuk eceran, ia juga melayani. Tetapi si pembeli tidak bisa langsung mendapatkannya. Pembeli harus menunggu sejenak karena Herman harus mengambilnya dulu di gudang di daerah Palmerah. “Semua penjual di daerah sini gudangnya sama.” ungkap Herman. Yang dimaksud oleh Herman gudang ini adalah toko yang bisa menjual pelek secara eceran. Jadi Herman tinggal menelpon pemilik toko dan menanyakan apakah mempunyai persediaan yang diinginkan pembeli. Jika ada, ia akan langsung  mengambilnya.

Tentu saja untuk harga satuan lebih mahal jika membeli satu set. Saipul yang baru tiga bulan berjualan pelek mengatakan kalau menjual pelek sama seperti berjualan di pasar.”Kalau eceran harganya tentu mahal, kalau borongan pasti lebih murah.” katanya sambil tertawa.

Saipul yang memilih membuka toko di daerah Permata Hijau ini menambahi bahwa jika dibandingkan harga satu set yang telah dibagi empat, harga eceran lebih mahal Rp 200 ribu.

Singgih Santosa, seorang pembeli pelek eceran di kios Herman menyebutkan alasannya membeli eceran karena saat ia membeli satu set pelek di tempat lain ia hanya mendapatkan empat buah. Sedangkan untuk cadangannya ia tak mendapatkannya. Oleh karena itu ia mencarinya di tempat Herman untuk ban serepnya. “Untung langsung dapet, kalo harus pesen dulu katanya harganya lebih mahal lagi.” Ucap Singgih.

Agus Sunarya, yang berjualan tak jauh dari tempat Herman membenarkan hal tersebut. Di tempatnya berjualan memang melayani pembelian pelek secara eceran selain itu juga melayani untuk pemesanan. Dia pesan tipenya, kita carikan. Kata Agus. Biasanya untuk harga pelek pesanan lebih tinggi Rp 100 sampai Rp 200 ribu.

Rata-rata satu set pelek bekas dengan ukuran ring 14 inci, mereka membelinya dengan Rp 1 hingga 1, 5 juta. Kemudian mereka akan menjualnya dengan harga Rp 1,5 sampai dengan 2 juta. Keuntungan yang mereka peroleh kurang lebih Rp 500 ribu untuk satu set pelek. Harga tersebut sudah termasuk biaya pemasangan.

Dalam sehari mereka setidaknya bisa menjual satu set pelek. Meskipun kadang-kadang bisa lebih atau kurang. Bayangkan saja pendapatan yang bisa diperoleh mereka. Dalam sehari mereka mendapatkan Rp 500 ribu, berarti dalam satu bulan atau 30 hari mereka mendapatkan Rp Rp 15 juta rupiah. Tetapi pendapatan tersebut masih pendapatan kotor, karena belum dipotong dengan biaya reparasi pelek yang rusak, ongkos pasang dan juga untuk membayar pegawai.

Menurut Herman, pembelinya kebanyakan mereka yang mempunyai mobil Kijang, Avanza atau Senia. Oleh karena itu ia banyak menyediakan pelek-pelek yang berukuran 14 sampai dengan 15 inci. Selain itu Herman juga banyak menyediakan pelek-pelek bekas Mercedes. “Mereka ke sini sekalian bawa tromolnya.” ungkap herman.

Soalnya kebanyakan mobil yang datang ketempatnya membunyai 4 buah baut. Sedangkan untuk pelek Mecedes mempunyai 5 buah baut. Oleh karena itu mereka yang membeli pelek Mercedes meminta Herman untuk menggantikan tromolnya sekalian. “Nggak ada biaya tambahan.” katanya.

Sedangkan Kios milik Agus banyak menyediakan pelek-pelek yang mempunyai ukuran lebih besar. “Yang datang ke sini kebanyakan sedan, jadi pada cari yang ukurannya 17 inci ke atas” ungkap Agus.

Herman dan Agus membuka kiosnya 24 jam. Sedangkan Saipul, lebihmemilih membuka kiosnya dari jam sembilan pagi hingga sore.”Tutupya tergantung rame sepinya sih.” tuturnya.

Selain itu jika di tempat Herman dan juga Agus hanay menyediakan pelek bekas saja, tempat Saipul juga menyediakan pelek baru. Ternyata antara pelek bekas dan baru harganya tak terlalu beda jauh. Saipul mengatakan bahwa untuk satu set pelek dengan merek yang sama ukuran 14 inci ia menjualnya dengan harga sekitar Rp 1,5 juta. Sedangkan untuk pelek baru ia menjualnya dengan harga Rp 2 jutaan.

Herman dan juga Agus bercerita bahwa adanya jalur busway yang melewati kios mereka berdampak buruk bagi penjualan.
Karena kios mereka yang berkuran kurang lebih 8×2 meter hanya menempati trotoar saja, otomatis orang yang ingin melihat pelek hanya bisa parkir di bahu jalan saja.” Kalo pada parkir sudah pasti akan tambah macet, jadi orang males buat berhenti.” tutur Herman. Oleh karena itu saat ini kebanyakan pembeli mereka datang pada malam hari saat jalan sudah tidak macet lagi. “Tapi ya yang beli jadinya sekarang lebih sedikit.” tutur Agus mengeluh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: