Sore: Lagu Penghantar Surya Ternggelam

Selama tiga tahun terakhir ini, panggung musik Indonesia ramai oleh lagu beraliran easy listening. Ini pula yang membikin band tak bertahan lama lantaran tak berciri. Band Sore termasuk yang bertahan lantaran punya warna berbeda.

DARI berderet-deret nama band indie yang muncul di belantika musik Indonesia, Sore memang patut diperhitungkan. Saat mengeluarkan album pertama di tahun 2005 yang lalu, Mereka langsung mendapat sambutan positif dari masyarakat penikmat musik. Bahkan majalah Times Asia edisi September 2005 menyebut album pertama mereka yang berjudul Centralismo sebagai salah satu dari “5 Asian Albums Worth Buying”. Salah satu yang menjadi keistimewaan dari band ini adalah semua personelnya ikut menyumbangkan suara. Alias semua menjadi vokal utama.

Nah, band yang salah satu lagunya menjadi OST film Janji Joni ini kembali merilis album baru di bulan ini. Album yang bertajuk Ports of Lima tersebut berisikan 13 lagu dengan gaya bermusik yang tak terlalu beda jauh dengan album sebelumnya. Sebenarnya sulit untuk mengkategorikan genre musik dari Sore, pasalnya beberapa orang mengkategorikan musik mereka dalam genre collage rock, tetapi juga ada yang menyebutnya sebagai band yang bergaya pop nostalgia. Yang jelas, jika diuraikan musik yang mereka mainkan adalah kombinasi progresif rock, blue note jazz, blues, pop dan juga ada sentuhan sedikit keroncong.

Jika dibandingkan dengan album pertama mereka, Ports of Lima lebih terkesan kelam. Selain itu kesan eksplorasi juga lebih menonjol di album ini. Terlihat dengan lebih banyaknya porsi distorsi gitar dan juga masuknya karakter paduan suara pada vocal latarnya. Selain itu di album ini juga banyak menggunakan bunyi-bunyian asli tubuh semisal siulan atau tepuk tangan.

Sedangkan dari segi tema lirik, band yang terdiri dari Ade Paloh (gitar), Awan Garnida (bass), gusti Pramudya (drum), Raymond Gascaro (piano) dan Reza Dwiputranto (gitar) ini tak jauh beda dengan album pertamanya yaitu mengenai cinta dan instropeksi diri. Semuanya dikemas dengan lembut dan dinamis.

Coba saja dengar lagu yang berjudul Essensimo. Suara vokal Ade Paloh yang diseret membuat kesan malas. Tetapi ketika dipadukan dengan suara instrumen alat musik, kesan tersebut melambat lenyap digantikan dengan kesan lembut. Tetapi tak semua lagu dalam album ini mendayu-dayu. Coba saja dengar lagu yang berjudul Layu. Dalam lagu ini Reza berlaku sebagai vokalis. Irama cepat dalam lagu ini diwakili dengan gebukan drum dari Gusti.

Akhirnya, album ini memang pantas untuk dikoleksi. Dan kemudian dinikmati di sepenggal sore sambil menghantarkan sang surya tenggelam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: