Aeromodeling: Tak Identik Sebagai Hobi Mahal Karena Ada yang Harganya Terjangkau

MENYALURKAN hobi kini bisa lebih dari sekadar menyenangkan hati atau melepas penat dari kesibukan sehari-hari. Selain membuat gembira, hobi juga bisa membuat badan bugar dan otak terasah.
Permainan aeromodeling adalah salah satu hobi yang bisa sekaligus mengasah inteligensi. Soalnya, penggemar pesawat mini ditantang untuk membuat sendiri pesawat mainannya.

Sepereti yang dilakukan oleh Yan Fajar, salah seorang penggemar aeromodeling. Yan mengatakan, ia sering mengutak-atik sendiri pesawat yang akan ia terbangkan. Bias bisa terbang sempurna, mau tak mau ia harus tahu bagaimana menghitung berat, keseimbangan, mekanika, juga faktor aerodinamis. “Makanya, dalam membuat pesawat harus teliti dan tidak boleh asal-asalan,” kata pria yang tinggal di Jalan Brawijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini.

Ia menekuni hobi aeromodeling sejak berumur 13 tahun hingga usianya kini yang sudah menginjak 39 tahun. Ia pertama kali berkenalan dengan aeromodeling saat mengikuti kegiatan pramuka di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Salah satu hal yang menjadi bagian dari kegiatan pramuka adalah kedirgantaraan. “Namanya Saka Dirgantara,” ujarnya. Dari situlah kegemarannya pada aeromodeling mulai tumbuh.

Pesawat pertama yang dimilikinya berjenis glider, atau pesawat aeromodeling yang cara memainkannya cukup dengan melemparkan pesawat ke udara. Bisa dengan tangan, karet atau motor letup. Setelah itu, pria yang sepekan sekali bermain di lapangan Universitas Al-Azar ini mulai meningkat ke kelas berikutnya, yaitu jenis control line.

Pesawat model ini bisa terbang dengan tali sebagai alat kontrolnya atau biasa disebut dengan U control. Jenis pesawat seperti ini ada yang tanpa mesin, atau yang menggunakan mesin, seperti yang sering dimainkan Yan.

Bisa untuk rekreasi
Memang, selain jenis pesawat sederhana yang dimainkan Yan, ada juga pesawat aeromodeling yang harganya mahal seperti pesawat yang pengendalinya menggunakan radio control (RC).

Harga pesawat jenis tersebut rata-rata mencapai jutaan rupiah. Misalnya, pesawat jenis Cessna 182 tenaga baterei buatan Indonesia harganya sekitar Rp 1 juta.

Gatot, penggemar aeromodeling dari Solo menambahkan, tidak semua jenis pesawat aeromodeling mahal. Ia sendiri sering memainkan pesawat aeromodeling seharga Rp 20.000. Pesawat itu berjenis glider, sama dengan yang pernah dimainkan Yan. “Tapi saya juga punya jenis glider yang harganya cukup mahal sekitar Rp 200.000,” imbuhnya.

Ia mengaku biasa bermain aeromodeling di Pangkalan Udara Adi Sumarmo, Solo. Namun, menurut Yan, aeromodeling merupakan permainan individual. Maksudnya, saat bermain aeromodeling ia tidak pernah mengajak keluarganya. “Karena butuh konsentrasi penuh saat menerbangkan pesawat,” tuturnya.

Ia mengaku jika ada keluarga saat bermain, konsentrasinya akan terpecah. Gatot justru punya pengalaman berbeda. Setiap bermain pesawat aeromodeling ia selalu mengajak keluarganya. “Sekaligus rekreasi,” ujarnya.

Saat ia bermain di lapangan, anaknya menjadi asistennya untuk menyediakan keperluan pesawat. Makanya, tidak heran jika kini hobi aeromodeling sudah menular ke anaknya. Sedangkan, istrinya bisa bercanda ria dengan ibu-ibu lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: