Chyntia Lamusu Berkisah Tentang Butiknya

Awalnya, Chyntia Lamusu ingin membuka restoran. Di tengah jalan, ia tiba-tiba punya hobi baru: mendesain pakaian. Akhirnya ia malah membuka butik. Beginilah kisahnya.

PERNAH nonton Seleb Dance? Itu, lo, tayangan di Anteve yang menampilkan para selebriti dansa-dansi bareng pasangannya. Jika Anda sering nonton, tentu tidak asing dengan wajah cewek cantik yang berjoget bareng dengan artis Surya Saputra. Dialah Chyntia Lamusu. Nah, pembaca, ternyata anggota AB Three ini tidak hanya mahir olah vokal dan piawai berdansa, lo. Ia juga jago berbisnis.

Sejak setahun lalu, cewek kelahiran Jakarta pada 12 April 1978 ini mengelola sebuah butik distro yang berlabel Phac Welba di kawasan Prapanca, Jakarta Selatan. Phac Welba adalah distro dengan tema pakaian kasual untuk laki-laki dan wanita. Di butiknya, Chyntia memajang berbagai jenis pakaian kasual yang ia dapatkan dari hasil berburu ke luar negeri.

Butik tersebut juga memajang pakaian hasil rancangan dari teman-teman Chyntia. “Jadi, saya jualin dengan sistem bagi hasil,” katanya. Padahal, tadinya Chyntia tidak bermaksud untuk membuka butik. Ia lebih tertarik membuka sebuah restoran karena suka dengan dunia kuliner. Apalagi di dalam keluarganya banyak yang jago mengolah makanan. “Mama kalau masak pasti enak,” katanya. Eh, di tengah jalan ia menemukan hobi baru, yaitu merancang pakaian. Maka, ia pun banting setir dan mencoba membuka butik.

Terbukti, usahanya itu berhasil, sehingga bulan Mei lalu Chyntia membuka butik keduanya. Hanya, kali ini konsepnya rada berbeda. Butik yang ia namai House Of Lamusch tersebut tidak sekadar menjual pakaian. Di sini para pembelinya bisa berkonsultasi. Seperti, baju apa yang cocok untuk menghadiri sebuah acara, bagaimana make up-nya, seperti apa tata rambutnya, dan sebagainya. Kalau gerai Phac Welba menjajakan pakaian kasual, House Of Lamusch menawarkan pakaian yang lebih glamor. Misalnya, pakaian pesta atau cocktail dress.

Wanita yang pernah mengeluarkan album solo ini menginginkan House Of Lamusch memberikan layanan one stop service untuk para perempuan. Selain menyediakan pakaian-pakaian ready to wear dengan desain yang beragam, House Of Lamusch juga menyediakan layanan custom made. Maksudnya, pembeli bisa memesan pakaian dengan desain yang eksklusif. Sementara itu, untuk pakaian ready to wear, House Of Lamusch menyediakan merek internasional. Sebut saja Marc Jacobs, Diane Von Furstenderg, Moschino, dan banyak lagi. Yang eksklusif, House Of Lamusch menyediakan pakaian berlabel Lamusch. Ini merupakan pakaian hasil rancangan Chyntia sendiri.

Selain pakaian, House Of La Musch memajang pula beragam jenis clutch, sepatu, dan aksesori lainnya. “Ada yang dari kulit ular dan buaya, terus dipayet,” ungkapnya sambil berpromosi. Perempuan keturunan Gorontalo ini bercerita, ia mengurus sendiri butiknya dari awal sampai sekarang. Mulai perencanaan, menentukan lokasi, mengatur isi, dan manajemennya. “Untuk berburu bahan ke Tanahabang juga aku lakukan sendiri,” tuturnya. Begitu juga modalnya. “Untuk membuka butik yang pertama itu aku keluar kurang lebih Rp 30 juta, lo,” katanya membagi rahasia.

Jadi wajar, agar tak macet di tengah jalan, Chyntia selalu memantau perkembangan bisnisnya. Dalam perjalanan usahanya, menurut Chyntia, yang paling sulit adalah mencari penjahit yang cocok. “Cukup lama aku mencari penjahitnya, tapi akhirnya dapat juga,” ujarnya dengan lega. Yang sulit adalah mencari penjahit yang hasil kerjanya rapi dan bisa memahami apa yang ia inginkan. Wanita kece ini mengaku tak pernah memasang target balik modal.

Tapi, ia mengaku, butik pertamanya sudah balik modal sebelum ia membuka House Of Lamusch. Ia ingin bisnisnya mengalir dengan sendirinya. Maka, ia tidak memperkenalkan butiknya kepada masyarakat secara besar-besaran. “Enggak pakai grand opening, langsung buka saja,” katanya mantap. Kendati begitu, sejak awal cukup banyak juga masyarakat yang mengunjungi butiknya. Rahasia agar butiknya banyak ramai adalah promosi dari mulut ke mulut. Chyntia bilang, cara seperti itu lebih efektif. Chyntia tidak memanfaatkan kepopuleran AB Three untuk mempromosikan butiknya ini. “Tapi, memang, sesekali teman-teman menggunakan pakaian dari sini,” tuturnya.

Ia merasa beruntung karena saat membuka House Of Lamusch waktunya bertepatan dengan kelulusan sekolah. Sehingga, banyak anak SMA yang menggunakan pakaian dari House Of Lamusch. Untuk ke depan, Chyntia akan mencoba membuka usaha lagi, tetapi tidak lagi di bidang yang sama. “Mungkin aku mau buka usaha restoran,” tuturnya. Wah, cinta lama itu bersemi kembali, dong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: