Curhat Ikang Soal Pergulatannya dengan Kredit Bank

Untuk memulai bisnis properti, Ikang meminjam duit dari bank. Saat krisis menghantam Indonesia, dia kena dampaknya. Meski demikian, dia tidak jera untuk ngutang lagi di bank.

KENDATI memiliki modal dari hasil bermusik. Namun ketika memulai bisnis properti, Ikang Fawzi harus meminjam uang dari bank. Maklum, bisnis properti memerlukan modal gede. Modal besar itu selain untuk konsolidasi lahan juga untuk operasional. Maka, ketika memulai bisnis tahun 1990-an, ia pun memutar otak. Akhirnya pria kelahiran 23 Oktober 1959 ini menjatuhkan pilihan pada perbankan. Alasan dia, hanya lewat bank uang dapat dengan cepat mengucur.

Pertama kali ia mengambil kredit konstruksi. Ini adalah pendanaan bank bagi kontraktor atau pengembang yang akan mengembangkan sebuah proyek. Pinjaman mengalir sesuai jadwal pembiayaan proyek. ”Waktu itu saya yang siapkan proposalnya dan mengajukannya ke bank,” kenang Ikang. Saat itu ia harus merelakan rumahnya dijadikan agunan. “Tanah yang akan dibangun itu juga saya agunkan,” katanya.

Meski mengetahui jika ia tidak berhasil melunasi utang akan kehilangan rumah beserta aset-aset milik lain, dia tetap bergeming. ”Waktu itu saya tidak ada pilihan lain,” katanya. Dan setelah memelototi rencana kerja dari proyek tersebut, cash flow, biaya operasional, return, dan sebagainya, bank pun mengucurkan kredit. Berkat ketekunan dan kegigihannya, suami Marissa Haque ini sedikit demi sedikit berhasil melunasi utangnya.

Tapi, ayah dua putri ini tak berhenti begitu saja. Setelah utangnya lunas, ia kembali mengajukan kredit ke bank untuk proyeknya yang lain. Dan, hal tersebut terus berlanjut sampai saat ini. “Tapi, sekarang rumah pribadi enggak dijaminin lagi,” katanya sambil nyengir.

Berbekal kerja kerasnya dan hasil mengutang, hingga saat ini ia berhasil mengembangkan tujuh proyek properti. Tiga proyek berlokasi di Bogor, satu di Bekasi, dua di Cikampek, dan satu di Purwakarta. Kebanyakan proyek Ikang berada di bawah bendera PT Jaringan Selera Asia (JSA).

Ikang membuka rahasia. Dalam memilih bank tempat berutang, ia melihat apakah bank tersebut mengetahui dan nyaman dengan usaha yang ia lakukan. “Jadi, saya memilih bank yang mengetahui risiko usaha saya,” ungkapnya. Pemilik nama lengkap Ahmad Zulfikar Fawzi ini telah merasakan asam garam bisnis properti. Termasuk saat krisis moneter melanda yang membuat bisnisnya terjungkal. Dia sempat tercekik utang yang membengkak dari Rp 1,5 miliar menjadi Rp 4 miliar. Untuk melunasinya, ia memerlukan waktu dua tahun. Wakil Ketua Real Estate Indonesia (REI) Jakarta ini mengatakan, misalnya pada waktu krisis tersebut ia ikut-ikutan kabur seperti pengembang nakal lain, mungkin ia tidak perlu melunasi utangnya tersebut. Tapi, dia tidak melakukannya. “Lucunya, setelah aku mengembalikan semua utang, banknya malah bangkrut,” katanya sambil tergelak.

Lantas, dampak kebangkrutan bank tersebut, aset Ikang yang menjadi jaminan ikut menjadi aset Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). ”Butuh waktu 2 tahun lagi buat ngurus aset itu,” cetusnya menggebu-gebu. Ia menjelaskan, ketika krisis melanda, semua pihak menjadikan pengembang sebagai obyek penderita. Semua kesalahan ditumpukan ke pengembang yang dianggap sebagai asal-muasal terjadinya kredit macet. “Padahal kan dulu yang mengevaluasi dan menyetujui proposal juga orang bank,” ungkap Ikang. Bahkan, para agen properti yang dulunya menyetujui juga ikut menyalahkan pengembang. Toh, Ikang mampu menghadapi semuanya dengan senyuman. Bahkan, setelah ia mampu melunasi utangnya yang jadi berlipat-lipat, banyak bank yang menawarinya pinjaman.

Meski begitu, Ikang tak gelap mata dengan mengambil semua tawaran itu. “Pinjaman yang saya ambil tergantung seberapa besar proyeknya,” katanya. Jika memang membutuhkan dana besar, Ikang akan mengambilnya. Saat ini Ikang tak lagi mengambil kredit konstruksi, tapi kebanyakan mengambil kredit investasi. Ini adalah pembiayaan untuk pembelian atau penambahan peralatan produksi, kendaraan, bangunan pabrik atau kantor. Jangka waktu utang sesuai kemampuan arus dana. “Kredit investasi itu bunganya lebih kecil,” ujarnya. Dan, sang pelantun tembang Preman ini bertekad ogah berurusan dengan centeng tagih bank alias debt collector.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: