Tempat Bermain yang Bisa Jadi Penitipan

Posted in Features on May 1, 2011 by menerimapesanan

Sore itu, di sebuah arena permainan yang ada di sebuah mall di Jakarta Barat, jerit kegirangan beberapa anak terdengar riuh. Mereka berlarian dari satu permainan ke permainan lainnya. Sesekali terdengar suara orang dewasa mengingatkan agar si anak agar tak salah melangkah, atau tak menakali teman mainnya.

Beberapa orang tua duduk di luar arena mengawasi anak-anak mereka bermain di arena tersebut. Beberapa menapakkan wajak cemas, takut sesuatu terjadi pada anak mereka. Beberapa lainnya ikut hanyut dalam kegembiraan anak-anaknya.

Di arena itu menyediakan berbagai macam permainan untuk anak-anak. Misalnya saja arena mandi bola. Arena tersebut berbentuk setengah lingkaran. Di salah satu pojoknya terdapat prosotan berbentuk pipa berwarna merah menyala,  berdiameter sekitar satu meter yang bermuara di arena mandi bola tersebut. Jadi ketika anak-anak tersebut meluncur akan disambut dengan puluhan bola pastik warna-warni yang sama ukurannya dengan bola tenis.

Adalah Fantasy Kingdom, sebuah arena bermain untuk anak-anak yang terdapat di Ciputra Mall, Jakarta Barat. Arena bermain tersebut memang dikhususkan untuk anak-anak yang berusia kurang dari 12 tahun. Berisikan bermacam-macam permainan untuk mengasah ketrampilan anak. Banyak permainan yang disediakan di tempat itu, adventure playground, mandi bola, prosotan atau beberapa permainan lainnya.

Budi Santosa, supervisor arena permainan Fantasy Kingdom mengatakan bahwa semua anak-anak yang berumur kurang dari 12 tahun dapat bermain di arena tersebut. “Untuk anak-anak yang memang masih kecil, mereka boleh didampingi oleh pengasuhnya.” tambah Budi. Sedangkan anak-anak yang tidak didampingi oleh pengasuhnya, mereka akan didampingi oleh karyawan Fantasy Kingdom.

Berbagai permainan sudah dirancang sedemikian rupa sehingga aman untuk anak-anak. Bahan-bahannya kebanyakan dari karet atau plastik. Beberapa rangka memang dari bahan fiber, tetapi tetap dibalut dengan karet. Sehingga jika anak-anak terpeleset atau terbentur tidak akan sakit.”Kami selalu memberikan pengarahan kepada orang tua kalau permainan ini beresiko.” ungkab Budi. Tetapi meskipun begitu sampai saat ini tidak ada kecelakaan berat yang terjadi.

Dalam sehari arena tersebut dikunjungi setidaknya 30 sampai dengan 50 anak. Tetapi jika akhir pekan, pengunjung dapat membludak hingga dua kali lipatnya. Budi juga menuturkan, jika hari biasa, anak-anak bisa dititipkan di arena tersebut, sedangkan orang tuanya bisa meninggalkan untuk berbelanja atau sekedar berjalan-jalan di mall. “Tapi kalo sabtu dan minggu kami tidak melayani.” ujar Budi.

Untuk dapat bermain selama setengah jam, mereka harus mengeluarkan biasa sebesar Rp 15.000. Tetapi biasanya tak jarang anak-anak yang bermain lebih dari satu jam. Jika dihitung, dalam sehari Fantasy Kingdom didatangi 50 anakdengan tarif Rp 15.000 per anak. Jika mereka bermain selama satu jam berarti total omset mereka adalah Rp 1,5 juta. Berarti dalam sebulan mereka memperoleh omset Rp 45 juta.

Kebanyakan karyawannya memang sudah berkeluarga dan mempunyai anak sehingga memudahkan mereka untuk mengerti apa yang dimaui oleh anak-anak. Sesekali, jika anak-anak itu tak ingin pulang, mereka harus membujuk dengan bahasa anak-anak pula. Karena hal itulah Fantasy Kingdom mempunyai pelanggan setia.

Jalur Busway Bikin Pendapatan Menurun

Posted in Features on May 1, 2011 by menerimapesanan

Deretan pelek terpampang rapi di atas rak kayu. Berbagai merek ada di sana, TFT Racing, Brabus, Wald dan beberapa lainnya. Semua nampak mengkilat seperti baru keluar dari pabriknya. Padahal sebenarnya pelek-pelek tersebut merupakan pelek bekas.

Seorang pria dengan kaos oblong putih yang sudah lusuh terlihat sibuk berbicara kepada pria berpenampilan rapi. Si kaos oblong terlihat menawarkan angka kepada si rapi. Si rapi tidak setuju, ia menawarkan angka yang lainnya. Keduanya terlihat saling ngotot mempertahankan angka masing-masing. Tapi akhirnya si kaos mengangguk, meskipun sebelumnya terlihat lama berpikir.

Keduanya bersalaman. Tak lama kemudian si rapi menyerahkan berlembar-lembar uang ratusan ribu kepada si kaos oblong. Dan si kaos oblong menaikkan sebuah pelek ke dalam mobil kijang si rapi. “Dia nawarnya keterlaluan sih, jadi lama saya lepasnya.” ungkap si kaos oblong yang ternyata bernama Herman Hardian Saputra.

Herman adalah penjual pelek bekas untuk mobil yang nongkrong di daerah Simprug, Jalan Tengku Nyak Arif, Kebayoran, Jakarta Selatan. Herman bercerita bahwa dia sudah berjualan di tempat itu sejak tahun 1997.

Untuk mendapatkan pelek tersebut ada orang yang langsung menjual kepadanya. Tetapi selain itu ada juga yang secara rutin mengantarkan kepadanya. Jika menerima pelek cacat, Herman akan memperbaikinya terlebih dahulu. Pelek peyang akan ia pres dulu di daerah Palmerah. Sedangkan pelek yang pecah atau retak ia tambal ke bengkel las aluminium di daerah Fatmawati. Setelah diperbaiki, baru kemudian pelek tersebut dicat dan siap dipajang.

Biasanya, ia menjual 4 buah pelek untuk satu setnya. Tetapi kadang-kadang jika ia mendapat yang satu set yang isinya  lima. Untuk eceran, ia juga melayani. Tetapi si pembeli tidak bisa langsung mendapatkannya. Pembeli harus menunggu sejenak karena Herman harus mengambilnya dulu di gudang di daerah Palmerah. “Semua penjual di daerah sini gudangnya sama.” ungkap Herman. Yang dimaksud oleh Herman gudang ini adalah toko yang bisa menjual pelek secara eceran. Jadi Herman tinggal menelpon pemilik toko dan menanyakan apakah mempunyai persediaan yang diinginkan pembeli. Jika ada, ia akan langsung  mengambilnya.

Tentu saja untuk harga satuan lebih mahal jika membeli satu set. Saipul yang baru tiga bulan berjualan pelek mengatakan kalau menjual pelek sama seperti berjualan di pasar.”Kalau eceran harganya tentu mahal, kalau borongan pasti lebih murah.” katanya sambil tertawa.

Saipul yang memilih membuka toko di daerah Permata Hijau ini menambahi bahwa jika dibandingkan harga satu set yang telah dibagi empat, harga eceran lebih mahal Rp 200 ribu.

Singgih Santosa, seorang pembeli pelek eceran di kios Herman menyebutkan alasannya membeli eceran karena saat ia membeli satu set pelek di tempat lain ia hanya mendapatkan empat buah. Sedangkan untuk cadangannya ia tak mendapatkannya. Oleh karena itu ia mencarinya di tempat Herman untuk ban serepnya. “Untung langsung dapet, kalo harus pesen dulu katanya harganya lebih mahal lagi.” Ucap Singgih.

Agus Sunarya, yang berjualan tak jauh dari tempat Herman membenarkan hal tersebut. Di tempatnya berjualan memang melayani pembelian pelek secara eceran selain itu juga melayani untuk pemesanan. Dia pesan tipenya, kita carikan. Kata Agus. Biasanya untuk harga pelek pesanan lebih tinggi Rp 100 sampai Rp 200 ribu.

Rata-rata satu set pelek bekas dengan ukuran ring 14 inci, mereka membelinya dengan Rp 1 hingga 1, 5 juta. Kemudian mereka akan menjualnya dengan harga Rp 1,5 sampai dengan 2 juta. Keuntungan yang mereka peroleh kurang lebih Rp 500 ribu untuk satu set pelek. Harga tersebut sudah termasuk biaya pemasangan.

Dalam sehari mereka setidaknya bisa menjual satu set pelek. Meskipun kadang-kadang bisa lebih atau kurang. Bayangkan saja pendapatan yang bisa diperoleh mereka. Dalam sehari mereka mendapatkan Rp 500 ribu, berarti dalam satu bulan atau 30 hari mereka mendapatkan Rp Rp 15 juta rupiah. Tetapi pendapatan tersebut masih pendapatan kotor, karena belum dipotong dengan biaya reparasi pelek yang rusak, ongkos pasang dan juga untuk membayar pegawai.

Menurut Herman, pembelinya kebanyakan mereka yang mempunyai mobil Kijang, Avanza atau Senia. Oleh karena itu ia banyak menyediakan pelek-pelek yang berukuran 14 sampai dengan 15 inci. Selain itu Herman juga banyak menyediakan pelek-pelek bekas Mercedes. “Mereka ke sini sekalian bawa tromolnya.” ungkap herman.

Soalnya kebanyakan mobil yang datang ketempatnya membunyai 4 buah baut. Sedangkan untuk pelek Mecedes mempunyai 5 buah baut. Oleh karena itu mereka yang membeli pelek Mercedes meminta Herman untuk menggantikan tromolnya sekalian. “Nggak ada biaya tambahan.” katanya.

Sedangkan Kios milik Agus banyak menyediakan pelek-pelek yang mempunyai ukuran lebih besar. “Yang datang ke sini kebanyakan sedan, jadi pada cari yang ukurannya 17 inci ke atas” ungkap Agus.

Herman dan Agus membuka kiosnya 24 jam. Sedangkan Saipul, lebihmemilih membuka kiosnya dari jam sembilan pagi hingga sore.”Tutupya tergantung rame sepinya sih.” tuturnya.

Selain itu jika di tempat Herman dan juga Agus hanay menyediakan pelek bekas saja, tempat Saipul juga menyediakan pelek baru. Ternyata antara pelek bekas dan baru harganya tak terlalu beda jauh. Saipul mengatakan bahwa untuk satu set pelek dengan merek yang sama ukuran 14 inci ia menjualnya dengan harga sekitar Rp 1,5 juta. Sedangkan untuk pelek baru ia menjualnya dengan harga Rp 2 jutaan.

Herman dan juga Agus bercerita bahwa adanya jalur busway yang melewati kios mereka berdampak buruk bagi penjualan.
Karena kios mereka yang berkuran kurang lebih 8×2 meter hanya menempati trotoar saja, otomatis orang yang ingin melihat pelek hanya bisa parkir di bahu jalan saja.” Kalo pada parkir sudah pasti akan tambah macet, jadi orang males buat berhenti.” tutur Herman. Oleh karena itu saat ini kebanyakan pembeli mereka datang pada malam hari saat jalan sudah tidak macet lagi. “Tapi ya yang beli jadinya sekarang lebih sedikit.” tutur Agus mengeluh.

Terluas Se-Asia Tenggara

Posted in Hangout on May 1, 2011 by menerimapesanan

Gramedia Matraman

Minat baca masyarakat Indonesia khususnya Jakarta memang masih rendah. Lihat saja, Dari 12 juta penduduk Jakarta, hanya ada sekitar 200 orang per hari yang mengunjungi perpustakaan. Dari angkat tersebut hanya 20% saja  yang meminjam buku. Selain itu jumlah penduduk dengan jumlah toko buku yang ada juga tidak sebanding.

Hal tersebut diakui oleh Petrus Waworuntu, Direktur Eksekutif PT Gramedia Asri Media yang membawahi jaringan toko buku Gramedia di seluruh Indonesia. Petrus mengatakan saat ini jika dilihat dari sisi penjualan buku masih sangat memprihatinkan. “Saat ini hanya buku Harry Potter saja yang bisa menembus angka penjualan sampai 40.000 eksemplar.” ungkapnya.

Namun hal tersebut tidak menyurutkan Toko Buku Gramedia untuk mengembangkan usahanya. Pada tanggal 28 Desember 2007 kemarin, Toko Buku Gramedia baru saja meresmikan gedung yang baru saja mereka renovasi di bilangan Matraman.

Semula, toko ini luasnya kurang lebih 4.000 meter persegi.  Setelah direnovasi  meningkat menjadi 7.097 meter persegi dan menyediakan 130.379 judul buku. Perluasan lahan ini menjadikan Toko Buku Gramedia Matraman sebagai toko buku terbesar se-Asia Tenggara.

Klaim sebagai tersebut bukan omong kosong belaka. Jika dibandingkan dengan Malaysian Publishing House (MPH) Bookstores, toko buku terbesar di Malaysia dan juga Kinokuniya Singapura, toko buku terbesar di Singapura, Gramedia Matraman jauh lebih luas. MPH  Bookstores hanya seluas 2.250 meter persegi, sedangkan  Kinokuniya Singapura hanya seluas 3.600 meter persegi.

Petrus mengatakan, Toko Buku Gramedia lebih memilih untuk memperluas toko buku Matraman daripada membuka di tempat lain karena selama ini toko buku Gramedia luasnya hanya sekitar 1.500-2.000 meter persegi saja. Dan lahan seluas itu tidak bisa menampung jumlah buku yang saat ini semakin banyak.”Kadang buku itu hanya mampir saja di Gramedia, kalau ada judul baru lagi langsung diganti.” kata Petrus.

Konsep yang diusung oleh Toko Buku Gramedia ini pun cukup menarik. Di lantai dasar terdapat beberapa gerai makanan cepat saji seperti Dunkin’ Donuts, Es Teller 77, Crepe ‘n Crepes atau Regina’s Bakery. Menurut Petrus, beberapa gerai makanan tersebut disediakan karena kadang orang membutuhkan waktu lama untuk memilih buku. Jika mereka lapar mereka bisa langsung mencarinya di situ,”kan nggak perlu ke tempat lainnya.” kata petrus. Dan jika mereka sudah kenyang, mereka bisa melanjutkannya lagi.

Toko buku terbesar se-Asia Tenggara ini ditata cukup informatif. Banyak tanda yang diberikan untuk memberikan informasi letak buku-buku tertentu. Pembagiannya pun cukup jelas. Lantai dasar diisi oleh perlengkapan komputer dan juga peralatan kerja. Lantai 1 diisi dengan buku-buku impor, buku bisnis dan majalah, lantai 2 diisi dengan buku-buku agama-psikoligi, novel, dan juga sosial politik. Dan lantai 3 diisi dengan buku anak-anak.

Di setiap ujung eskalatif terdapat satpam yang siap sedia memberikan informasi yang anda butuhkan. Misalnya saja di mana letak buku atau dimana harus membayarnya. Ananda, salah seorang pengunjung mengatakan bahwa setelah renovasi, koleksi buku yang disediakan oleh Gramedia cukup lengkap.

Pengunjung lain yaitu Agung  Kusumawardana juga mengatakan hal yang sama. Menurut Agung, dibandingkan dengan toko buku lain yang pernah dikunjunginya, Gramedia Matraman merupakan yang terbesar.”Sayangnya komputer yang menyediakan direktori buku apa saja yang dijual dan dimana tempatnya kurang.” ungkap Agung.

Selain itu Ananda menyukai toko buku gramedia Matraman karena lokasinya yang dekat dengan halte busway.”Jadi naik busway dari Cilandak bisa langsung ke sini.” tuturnya.

Nikmatnya Gulai Subuh Pakde Marto

Posted in Kuliner on May 8, 2008 by menerimapesanan

JIKA bertanya pada orang Jakarta, di mana kedai gulai yang paling terkenal, jawabannya sudah pasti Gultik Bulungan alias gule tikungan yang terletak di bunderan Bulungan, Jakarta Selatan. Di sana berderet-deret kedai gulai yang akrab bagi  anak-anak muda. Maklum saja, jajaran kedai tersebut buka selama 24 jam. Jadi, selain sebagai tempat makan, juga bisa sebagai tempat nongkrong.

Namanya tempat nongkrong, kualitas rasa pun dinomorduakan. Nah, jika ingin  gulai dengan citarasa tinggi, coba kunjungi kedai gulai milik Pak  Marto Prawiro. Letaknya tak jauh dari Bulungan. Persisnya di  Jalan Barito.  Tepatnya  di depan Hero Barito.

Tapi ingat, kedai ini tak bisa Anda kunjungi sembarangan waktu.  Soalnya jam bukanya sedikit aneh, dari jam tiga dini hari hingga dagangan habis atau sekitar jam delapan pagi.

Pak Marto atau sering dipanggil dengan sebutan Pakde, si pemilik kedai, mengaku sudah berjualan gulai di Jakarta sejak tahun 1960. Sebelum menepati lokasinya yang sekarang, Pakde membuka kedai di Taman Barito. “Tetapi tak lama berjualan di sana, saya disuruh pindah ke sini,” tutur Marto. Pria yang berasal dari Sukoharjo, Jawa Tengah itu mengaku, termasuk salah seorang pionir dalam berjualan gulai di daerah selatan. Ngomong-ngomong soal rasa, tentu sebaiknya Anda mencicipi sendiri. Tetapi, pengunjung kedai Marto biasanya terkesan pada kunjungan pertama.

Setiap pengunjung yang datang langsung mendapat segelas teh tawar hangat dan sepiring kerupuk. Selanjutnya, Pakde dan anaknya akan meracik gulai. Sebuah piring tertutup nasi mengepul panas dengan irisan jeroan kambing. Kuah gulai baru kemudian diguyur ke dalam piring. Untuk menambah rasa, jangan lupa menambahkan bawang goreng dan kucuran jeruk nipis. Jika ingin tambahan pedas atau manis, di meja sudah tersedia sambal dan kecap manis.

Jangan terlalu banyak mengambil sambal, karena sesendok saja akan membuat rasa pedas menempel di lidah Anda. Jika kebanyakan Anda pasti berkeringat habis. Anda jangan berharap bisa memesan teh botol dingin atau air mineral dingin, soalnya kedai ini hanya menyediakan teh tawar hangat saja.

Rasa gulai sangat kental. Kombinasi nasi yang pulen dengan irisan jeroan kambing yang gurih dan lembut mengajak untuk menyendok hingga  isi piring tandas. “Anda tak bakal mencium bau prengus kambing di sini,” tutur Marto. Memang, biasanya masakan kambing akan selalu bernuansa bau tak sedap. Tetapi di gulai racikan Marto, bau tak sedap kambing sama sekali lenyap. Marto tak mau mengungkapkan apa resep dari gulainya, ”Pokoknya racikan khas rahasia keluarga,” ungkapnya sambil tertawa.

Untuk bisa menikmati sepiring nasi gule racikan Pakde, tak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Harganya tak berbeda jauh dengan Gultik Bulungan kok. Tapi ingat, meskipun cukup murah dan bakal menggoyang lidah,  isi gulai Pakde dipenuhi dengan jeroan kambing. Jadi, jika pengen nambah, ingat-ingat kadar  koresterol.

Buat yang Pulang Dugem Atau Berangkat Kerja
karena jam bukanya yang sedikit aneh yaitu dari jam empat subuh hingga kurang lebih jam delapan pagi, pengunjung kedai Marto pun tak bisa ditebak. Yaitu orang yang pulang dari dugem atau mereka yang akan berangkat kerja. Pakde bercerita bahwa saat ia sedang bersiap-siap pun sudah banyak orang yang menunggu, “Mereka pada nunggu di dalam mobil,” tuturnya dengan logat Jawa medok.

Mungkin mereka yang tak beranjak keluar dari mobil merasa tak akrab dengan musik yang disajikan oleh Marto. Setiap berjualan pria yang sudah agak bungkuk ini selalu memasang gelombang radio Safari yang melantunkan kembang-tembang Jawa. Seorang pengunjung di kedai Marto mengatakan bahwa hangatnya the tawar dan pedasnya gulai bisa membuat sadar dan menghilangkan rasa mabuk.

Beranjak agak terang, pengunjung kedai Marto berubah. Yaitu orang-orang yang akan berangkat kerja. Mulai dari supir bajaj hingga pekerja kantoran yang menggunakan mobil sedan mewah, “Kadang sampai nggak ada lagi tempat parkir,” ungkap Marto bercerita.

Madonna: Diva Pop Menjajal Gaya Hip Hop

Posted in Review on May 7, 2008 by menerimapesanan

TUA-TUA keladi, makin tua makin jadi. Peribahasa ini cocok untuk Madonnna, bintang pop asal Amerika. Kendati usianya telah menginjak setengah abad pada Agustus mendatang, namun kariernya masih bisa bergoyang seksi.

Pada 28 April lalu, Madonna merilis album baru. Kali ini, sajiannya sungguh berbeda gaya dengan album-albumnya yang lama. Aliran hip hop sangat lantang terdengar di album yang berisikan 12 lagu ini. Barangkali ini karena campur tangan Nate “Danja” Hills, yang menjadi produser banyak bintang hip hop.

Selain Danja, Madonna juga merekrut banyak pakar hip hop semacam Neptunes dan Timbaland, yang sebelumnya sukses menulis lirik lagu untuk album Britney Spears, Jay-Z, Missy Elliot dan Justin Timberlake.

Penyanyi yang bakal mengakhiri kontrak dengan Warner Bros dan akan bekerja sama dengan promotor konser Live Nation ini, juga mengajak Justin Timberlake mengisi backing vokal dalam lagu 4 Minutes. Dalam lagu tersebut, tempo yang sangat cepat akan membuat kaki pendengar tidak bisa diam. Suasana dinamis makin terbangun oleh lirik yang dinyanyikan Timberlake dengan gaya rap.

Kualitas album ini tak mengecewakan. Tak hanya satu atau dua lagu saja, tetapi hampir seluruh lagu dalam album ini mengajak untuk bergoyang. Misalnya lagu Candy Shop, yang memiliki irama sangat manis. Seakan Madonna mengajak kita berjalan-jalan menyusuri gang-gang dalam toko permen. Di lagu yang berjudul Dance 2nite, pada awal terasa sulit untuk memahaminya sebab terlalu banyak bunyi dari instrumen musik elektronik. Lama-kelamaan, Anda serasa masuk ke sebuah club malam.

Andra and The Backbone: Masih Menjual Cinta

Posted in Review on May 5, 2008 by menerimapesanan

Berupaya melanjutkan kesuksesan album pertama, Andra and The Backbone merilis album kedua yang bertajuk Season 2. Band yang mengusung aliran rock ini memilih Main Hati sebagai lagu andalan. Album terbaru ini masih mengandalkan resep yang sama seperti album pertama: cinta.

BAND ini berhasil membetot perhatian pecinta musik Indonesia tahun lalu. Sebagai pendatang baru, Andra and The Backbone mampu mencetak dua hits dari album pertama. Seakan tak mau ketinggalan momen, band yang masuk dalam manajemen Republik Cinta milik Ahmad Dhani ini, kembali merilis album kedua. Namanya Season 2, terinspirasi oleh serial televisi yang ceritanya berkesinambungan antar musim.

Band yang terdiri dari Deddy Suryadi (vokal), Stevie Item (gitar), dan Andra Junaidi (gitar) tentu berharap album kedua mereka mampu menyambung sukses komersial album pertama. Di album terdahulu, band yang merupakan proyek sampingan gitaris Dewa, Andra, mengusung lagu Musnah sebagai single andalan. Hits kedua mereka adalah lagu Sempurna yang manis merayu.

Season 2 tak banyak berbeda dengan album pertama yang juga berjudul Andra and The Backbone. Kesamaan itu tampak, setidaknya di aransemen musik dan tema lirik, yang bertutur tentang cinta. Kebanyakan lagu di Season 2 tak jauh-jauh dari romansa cinta.

Main Hati, misalnya, bercerita mengenai seseorang pria yang telah menemukan seorang gadis sebagai teman hidupnya. Karakter musik Season 2 juga mengikuti resep kesuksesan album pertama. Ambil contoh lagu Kepayang yang mengingatkan pada hits di album pertama, Musnah.

Kendati menggunakan resep yang mirip sama seperti album pertama, bukan berarti tak ada yang istimewa di album kedua Andra and The Backbone. Salah satu yang membuat album ini layak disimak adalah semakin kompaknya permainan gitar Andra dengan Stevie. Kocokan gitar Stevie yang gaduh kompak bersanding dengan petikan gitar Andra. Kolaborasi kedua gitaris tersebut menyatu dengan karakter suara serak dari Deddy yang sulit untuk ditiru.

Sore: Lagu Penghantar Surya Ternggelam

Posted in Review on April 21, 2008 by menerimapesanan

Selama tiga tahun terakhir ini, panggung musik Indonesia ramai oleh lagu beraliran easy listening. Ini pula yang membikin band tak bertahan lama lantaran tak berciri. Band Sore termasuk yang bertahan lantaran punya warna berbeda.

DARI berderet-deret nama band indie yang muncul di belantika musik Indonesia, Sore memang patut diperhitungkan. Saat mengeluarkan album pertama di tahun 2005 yang lalu, Mereka langsung mendapat sambutan positif dari masyarakat penikmat musik. Bahkan majalah Times Asia edisi September 2005 menyebut album pertama mereka yang berjudul Centralismo sebagai salah satu dari “5 Asian Albums Worth Buying”. Salah satu yang menjadi keistimewaan dari band ini adalah semua personelnya ikut menyumbangkan suara. Alias semua menjadi vokal utama.

Nah, band yang salah satu lagunya menjadi OST film Janji Joni ini kembali merilis album baru di bulan ini. Album yang bertajuk Ports of Lima tersebut berisikan 13 lagu dengan gaya bermusik yang tak terlalu beda jauh dengan album sebelumnya. Sebenarnya sulit untuk mengkategorikan genre musik dari Sore, pasalnya beberapa orang mengkategorikan musik mereka dalam genre collage rock, tetapi juga ada yang menyebutnya sebagai band yang bergaya pop nostalgia. Yang jelas, jika diuraikan musik yang mereka mainkan adalah kombinasi progresif rock, blue note jazz, blues, pop dan juga ada sentuhan sedikit keroncong.

Jika dibandingkan dengan album pertama mereka, Ports of Lima lebih terkesan kelam. Selain itu kesan eksplorasi juga lebih menonjol di album ini. Terlihat dengan lebih banyaknya porsi distorsi gitar dan juga masuknya karakter paduan suara pada vocal latarnya. Selain itu di album ini juga banyak menggunakan bunyi-bunyian asli tubuh semisal siulan atau tepuk tangan.

Sedangkan dari segi tema lirik, band yang terdiri dari Ade Paloh (gitar), Awan Garnida (bass), gusti Pramudya (drum), Raymond Gascaro (piano) dan Reza Dwiputranto (gitar) ini tak jauh beda dengan album pertamanya yaitu mengenai cinta dan instropeksi diri. Semuanya dikemas dengan lembut dan dinamis.

Coba saja dengar lagu yang berjudul Essensimo. Suara vokal Ade Paloh yang diseret membuat kesan malas. Tetapi ketika dipadukan dengan suara instrumen alat musik, kesan tersebut melambat lenyap digantikan dengan kesan lembut. Tetapi tak semua lagu dalam album ini mendayu-dayu. Coba saja dengar lagu yang berjudul Layu. Dalam lagu ini Reza berlaku sebagai vokalis. Irama cepat dalam lagu ini diwakili dengan gebukan drum dari Gusti.

Akhirnya, album ini memang pantas untuk dikoleksi. Dan kemudian dinikmati di sepenggal sore sambil menghantarkan sang surya tenggelam.