Maliq: Mendaur Ulang Cinta

Posted in Review on April 15, 2008 by menerimapesanan

Maliq and D Essentials mengemas ulang album Free Your Mind. Ada dua lagu baru yang ditawarkan dalam album yang diproduseri oleh EQ Puradiredja ini. Seperti kebanyakan lagu Maliq lainnya, kedua lagu bonus itu menuturkan kisah cinta.

BAND ini berhasil membetot perhatian saat muncul pertama kali, tiga tahun silam. Maliq and D’Essentials memainkan musik yang tergolong unik. Mereka mengaku pengikut aliran soulful, yang kalau disimak baik-baik mirip dengan acid jazz. Aliran yang mencampurkan klasik jazz, funk di tahun 70-an, hip-hop, soul juga latin.

Dengan sound yang unik, penampilan Maliq and D’Essentials jelas berbeda di antara kebanyakan artis Indonesia lain yang saat itu mengusung pop yang mudah dicerna. Band yang beranggotakan Angga (vokal), Indah (vokal), Widi (drum), Jawa (bas), Ifa (keyboard), Amar (trompet), dan Lale (gitar) bulan Maret lalu merilis album berjudul Free Your Mind.

Sebenarnya ini bukan album baru, tetapi merupakan album repackaged. Jika dibandingkan dengan Free Your Mind yang lawas, versi repackaged menawarkan dua lagu tambahan. Yang menjadi bonus album daur ulang ini adalah lagu bertajuk Dia dan Kau yang Bisa yang merupakan soundtrack film Claudia/Jasmine dan Beri Cinta Waktu yang merupakan versi reggae lagu Free Your Mind.

Perbedaan lain adalah: dalam album repackaged ini, Maliq and D’Essentials tak lagi diperkuat oleh Satrio. Posisi gitaris diisi oleh Lale yang mempunyai latar belakang musik rock. Patut ditunggu warna yang akan diberikan Lale untuk sound Maliq and D’Essentials.

Sejak album pertama, lirik lagu Maliq and D’Essentials kebanyakan bertutur tentang cinta. Dua lagu bonus album repackaged juga mengisahkan kisah cinta. Kedua lagu itu sangat cocok bagi mereka yang tengah merindukan seorang pasangan.

Saat band ini pertama kali muncul. Banyak yang mengira nama Maliq dicomot dari nama personel band tersebut. Padahal, Maliq merupakan kependekan dari Music and Live Instrument Quality , yang artinya gabungan dari berbagai macam aliran dan instrumen musik.

Brian Simpson: Above The Clouds

Posted in Review on April 11, 2008 by menerimapesanan

Mendengarkan musik jazz tak selalu menyebabkan kening berkerut. Ada banyak musisi yang memainkan jazz yang mudah kita nikmati alias easy listening. Ambil contoh Brian Simpson yang belum lama ini melepas album Above The Clouds.

ALBUM Brian Simpson terbaru ini menyajikan jazz dengan sentuhan gaya grovee dan funk. Mereka yang tak terbiasa mendengar jazz pun bakal mudah bergoyang saat mendengar lagu di album Above The Clouds.

Saat mendengarkan lantunan musiknya, anda pasti akan terpengaruh untuk menggoyang-goyangkan kepala dan kaki mengikuti beat musik. Untuk sesaat, seluruh pikiran yang penat sehabis seharian beraktivitas di kantor bisa hilang seketika.

Dalam memainkan musiknya, Simpson sering menggunakan tone-tone musik blues yang mempunyai fokus utama pada ritem. Jazz yang dimainkan Simpson memang kental dengan nuansa gembira dan kadang-kadang menyentuh emosi. Dengar saja lagunya yang berjudul What Cha Gonna Do? atau Let’s Get Close. Saat mendengar kedua lagu itu, akan terbayang jari-jari tangan Simpson menari lincah di atas tuts piano.

Di album ketiga ini, Brian membawakan 11 lagu. Untuk beberapa lagu ia berkolaborasi bersama musisi jazz ternama lainnya, mulai dari Kirk Whalum, Chuck Loeb, George Duke, dan Dave Koz. Berkolaborasi dengan Dave Koz bukanlah hal baru bagi Simpson. Selama 10 tahun terakhir, Brian selalu hadir di setiap tur Dave Koz.

Musisi jazz yang besar di Gurnee, Illinois ini pertama kali mengeluarkan album pada 1995 dengan tajuk Closer Still. Sepuluh tahun kemudian, atau tepatnya 2005, Simpson menerbitkan album kedua yang berjudul It’s All Good. Di Amerika, album ketiga ini sudah beredar di pasar sejak akhir tahun lalu. Namun di Indonesia, album Simpson baru beredar, setelah ajang Java Jazz 2008, yang berlangsung pada akhir Maret yang lalu. Maklumlah, Simpson termasuk artis jazz internasional yang ikut tampil di Java Jazz kemarin.

Bila anda ingin bersantai dengan musik jazz yang easy listening, karya Simpson ini patut jadi pertimbangan.

Kalau Museum Bercerita Aktivitas Bank Tempo Doeloe

Posted in Uncategorized on April 9, 2008 by menerimapesanan

Mendengar kata perbankan, pikiran Anda pasti akan melayang pada transaksi keuangan, penjagaan ketat atau pegawai bank yang ramah dan cantik-cantik. Tapi, tahukah Anda, bagaimana perjalanan perbankan pada masa lalu? Ada baiknya, Anda menjelajah Museum Bank Mandiri. Di gedung yang bernama asli Nederlandsche Handel Maatschappij, Anda akan mendapati cuilan-cuilan sejarah industri perbankan di tanah air.

BANGSA yang beradab adalah orang yang tak melupakan sejarah. Inilah yang tergambar ketika memasuki ruang Museum Bank Mandiri. Berdiri kokoh di Jalan Lapangan Stasiun nomor 1, Jakarta Barat, ada penggalan yang terbilang lengkap atas lahirnya aktivitas perbankan di Indonesia.

Ketika saya menyambanginya, Komunitas Jelajah Budaya kebetulan tengah menghadirkan acara Nighttime Journey at Museum Factorij Batavia in 1930′s. Wah, suasana jadoel langsung menyergap kala saya mengikuti aksi perjalanan sejarah mereka. Apalagi, komunitas ini juga fasih bercerita tentang asal muasal karya yang terpampang di museum.

Saat memasuki gerbang museum, saya langsung disambut oleh empat orang berseragam Batavia Drum Corps tengah memainkan lagu Si Jali-Jali. Masuk lebih ke dalam gedung, Anda akan disuguhi aksi beberapa meneer dan noni Belanda asyik mengobrol sambil menikmati secangkir teh hangat dan beberapa makanan kecil yang disuguhkan oleh pribumi berseragam.

Rupanya, anggota komunitas ini tampaknya sengaja mengambil tema tahun 30-an. Maklum sajalah, “Tahun itu merupakan momen pertama kali, saat gedung Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) pertama kali digunakan untuk aktivitas perbankan,” tutur Ketua Komunitas Jelajah Budaya Kartum Setiawan. Di gedong NHM atau biasa disebut Gedung Dagang Belanda inilah aktivitas perbankan, yakni menabung, terjadi.

Gedung NHM sendiri mulai dibangun pada 1929 dengan menggunakan gaya arsitektur art deco hasil rancangan J.J.J. De Bruyn yang bekerjasama dengan A.P. Smits dan C. Van de Linde. Gedung seluas 10.039 meter persegi tersebut diresmikan pada 14 Januari 1933 oleh C.J. Karel van Aalst yang menjadi Presiden NHM pada masa itu.

Menyusuri gedung ini, salah satu peninggalan yang bisa Anda lakukan saksikan adalah Groot Boek (Buku Besar) NHM untuk laporan tahun 1933-1937 yang ditulis tangan sangat rapi. Buku itu berukuran 67 cm x 54 cm x 13 cm, tebalnya 334 halaman, dan bobotnya 28 kilogram. Buku tersebut digunakan NHM untuk mencatat rincian laporan keuangan, yaitu perkiraan perubahan debet dan kredit untuk dilaporkan di setiap akhir bulan. Tak hanya sebatas itu, laporan keuangan dari agen-agen NHM di Surabaya, Semarang, Padang, dan Anyer juga ada.

Masuk lebih dalam, Anda akan melihat ruang direktur utama zaman dulu. Sebuah meja bundar dikelilingi kursi dan dilengkapi dengan palu untuk menetapkan keputusan saat rapat menjadi saksi bisu sebuah keputusan. Peti uang dan brankas dari Escomptonbank Bandung juga tampak, lengkap dengan daun pintu yang punya berat mencapai ratusan kilogram.

Selain itu, transaksi perbankan pada zaman dulu hadir dalam bentuk rekonstruksi perbankan pada era 30-an. Seorang teller dan petugas bank lainnya didominasi oleh peranakan Tionghoa. Untuk menghitung transaksi, mereka menggunakan sempoa. Adapun pribumi tampaknya hanya sebatas menjadi pelayan yang bertugas membersihkan kantor, menyuguhkan secangkir kopi, menyuguhkan cerutu sekaligus juga menyalakan untuk sang pimpinan bank. Rupanya, jurang ras antara pribumi dan non sudah ada sejak tempo doeloe.

Janet Jackson: Kembali Ke Selera Asal

Posted in Review on April 4, 2008 by menerimapesanan

Tak mau berlama-lama menyesali keterpurukan, Janet Jackson menerbitkan album baru yang berjudul Discipline. Lagu pop dengan tempo lambat menjadi andalan album baru Janet.
SUDAH cukup lama suara Janet Jackson tak berkumandang di jagad musik internasional. Namun pada akhir Februari lalu, adik perempuan King of Pop Michael Jackson akhirnya kembali terdengar.

Janet kembali ke pentas hiburan dengan mengusung album terbaru berjudul Discipline. Album kesepuluh Janet yang berisi 22 lagu ini menempatkan Feedback sebagai lagu andalan.

Untuk mengingatkan dunia dengan namanya, Janet merilis dahulu lagu Feedback di radio-radio, setelah itu ia baru kemudian ia meluncurkan albumnya. Cukup unik bukan. Lagu Feedback mulai dirilis sejak tanggal 7 Januari 2008. Sedangkan albumnya baru keluar ke pasar pada akhir Februari yang lalu.

Tak mau gagal seperti album sebelumnya yang jeblok di pasaran, Janet mencoba kembali ke selera asal. Dalam album ini ia kembali membawakan lagu-lagu yang bertempo lambat. Tetapi meskipun begitu, sentuhan musik modern seperti techno, rhytm and blues (R&B) tetap terdengar di beberapa lagu dalam album Discipline ini.

Untuk lagunya yang berjudul Can’t B Good, Curtain dan Discipline, sangat terasa sekali gaya musik Janet yang sebenarnya, saat ia masih berada di bawah naungan Jackson 5. Temponya lambat dan mendayu-dayu.

Tapi meskipun begitu, anda masih bisa mendengar beberapa lagu lain yang berirama cukup cepat dengan balutan musik elektro. Seperti lagu andalan Feedback, yang kental dengan irama R&B plus suara-suara robot dan efek-efek vokal elektro yang sangat kental.

Kembalinya adik kandung King of Pop, Michael Jackson ke dalam irama pop lambat ini sepertinya untuk membalas dendam di kedua album sebelumnya yang jeblok. Di Amerika, album “20 Y.O” yang dirilis pada tahun 2006 hanya terjual sebanyak 648 ribu saja. Sedangkan album “Damita Jo” yang dirilis pada tahun 2004 hanya terjual 999 ribu saja.

Dalam album ini janet mengajak Jermaine Dupri yang merupakan mantan kekasihnya untuk penggarapan di studionya. Sedangkan sebagai pencipta lagu ia menggandeng beberapa nama terkenal seperti The Dream, Tricky Stewart, Lil Jon, Satrgate, Ne-Yo dan Johnta Austin. Sedangkan Rodney Jerkin, selain memproduseri dia juga menulis lagu Feedback bersama Dernst Emile.

Sejarah Panjang dan Sosok Macho yang Bikin Jatuh Cinta

Posted in Uncategorized on March 29, 2008 by menerimapesanan

Harley Davidson jelas bukan sepeda motor sembarangan. Tongkrongan fisiknya sangat khas. Mesinnya pun punya tenaga di atas sepeda motor biasa. Sejarah panjang makin menaikkan gengsi sepeda motor ini. Tak heran, banyak orang yang terpikat ingin memiliki Harley. Buat para pengagum Harley, mengendarai sepeda motor ini memang bisa memunculkan rasa superior. Untuk mereka yang kasmaran berat dengan Harely, biaya pun tak lagi menjadi masalah. Banyak penggemar yang mengoleksi lebih dari satu Harley.

BODY yang besar dengan potongan seksi plus suara mesin menggeram membuat kesan macho tak pernah luntur dari Harley Davidson. Tampilan, performa mesin dan segudang gimmick marketing menjadikan sepeda motor ini tak pernah sepi penggemar. Biarpun harganya bisa sampai sembilan digit, toh populasi Harley tetap besar di Indonesia.

Beberapa penggemar Harley mengakui, jatuh cinta karena sosoknya yang sangat berbeda dengan sepeda motor lain. Mereka semakin terpikat karena Harley punya sejarah yang panjang. Ia, misalnya, pernah menjadi kendaraan tentara sekutu di Perang Dunia Kedua. Kisah historis macam itu tentu mendongkrak nilai jual Harley.

Kesan sebagai legenda juga yang membuat Djonnie Rahmat, pecinta Harley, tertarik untuk memiliki sepeda motor buatan Amerika ini. Pria yang menjabat sebagai Direktur Utama Mabua Harley Davidson, Sole Authorized Distributor Harley Davidson di Indonesia mengatakan, pertama kali tertarik Harley saat ia masih kelas dua SMP, hampir empat dekade lalu. Saat itu, Djonnie membonceng sang kakak yang mengendarai Harley, “Ada perasaan superior saat nangkring dia atas Harley,” tutur Djonnie.

Perasaan bangga bisa mengendarai Harley bisa jadi muncul karena harganya yang tak murah. Bahkan, beberapa orang sengaja membeli Harley untuk menunjukkan status sosial mereka. Maklumlah, hanya mereka yang sudah mapan saja yang mampu memelihara Harley. Namun kebanyakan pemilik Harley itu tak sekadar ingin menunjukkan status sosial, tetapi juga karena sudah kecanduan menunggang Harley. Jika sudah jatuh cinta, penggemar Harley tak akan memikirkan berapapun biaya untuk memodifikasi atau sekadar merawat motornya. Bahkan tak jarang seseorang mempunyai lebih dari sebuah Harley. Demikian pun dengan Djonnie, dia punya tiga Harley, tipe Police, Elektra, dan Ultra Classic.

Banyak pengalaman yang didapat saat mengendarai Harley. Biasanya pemilik Harley melakukan touring bersama-sama. Saat itu pengendara Harley harus bekerjasama, saling menghargai dan tentu saja sabar. Dalam touring biasanya ada aturan main agar para pengendara aman. Djonnie mengaku pernah alpa aturan saat tur dari Semarang menuju Bandung. Dalam perjalanan, di sebuah tikungan, Djonnie mencoba untuk menyalip pengendara di depan. Tiba-tiba dari arah depan muncul angkot yang melaju kencang. Djonnie pun jatuh terpental.

Faisal Arif, seorang manager eksekutif sebuah perusahaan ekspor impor di Jakarta juga mengungkapkan bagaimana ia jatuh cinta pada Harley. Arif mengaku menyukai Harley setelah menyaksikan film yang tokohnya mengendarai Harley, “Saat itu saya masih SD,” tuturnya. Sejak itu, Arif pun gemar berburu berbagai aksesoris berbau Harley. mulai dari poster, kaos, jaket dan juga miniatur Harley. Setelah kehidupannya mapan, Arif pun membeli Harley bertipe touring. Ia memilih tipe tersebut karena terpesona dengan bodinya yang besar.

Sekarang, hampir setiap minggu Arif menunggangi Harley-nya. Jika sudah jatuh cinta dengan Harley, kadang para penggemar seperti lupa dengan dunia. Arif, misalnya, mengaku pernah dicemburui sang istri. “Setiap pagi sebelum kerja, saya mengelus-elus dulu Harley saya. Istri pun bilang saya lebih sayang motor daripada dia,” kata Arif sambil terbahak.

Simple Plan: Perkawinan Aliran Punk dan Tekno

Posted in Review on March 6, 2008 by menerimapesanan

Simple Plan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menggarap album ketiganya. Hasilnya memang tak membuang waktu sia-sia. Banyak kritikus yang memuji album tersebut. Mereka menilai Simple Plan berhasil memanjakan penggemarnya dengan aliran tekno.

ADA nuansa baru di album anyar milik Simple Plan. Jika selama ini, aliran musik Simple Plan identik dengan gaya pop punk maka di album ketiga ini, Simple Plan mengawinkan aliran musik pop punk dengan genre tekno.

Dengan langkah tersebut mereka pun bisa memperoleh pasar baru, sekaligus mempertahankan penggemar fanatik mereka. Bagi para penggemar Simple Plan, yang setia pada musik pop-punk, lagu-lagu di album ketiga awalnya mungkin terdengar asing. Namun, ketika disimak dan didengar berulang-ulang, maka terbetik kecerdasan dari personel Simple Plan untuk menggabungkan antara aliran tekno dengan pop rock.

Makanya sangat wajar untuk album baru ini, mereka membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan selang waktu peluncuran album pertama dan kedua. Dengan suguhan musik yang istimewa kali ini, mereka mengusung judul album Self Titled. Ini judul yang memang tak lazim. Biasanya, self titled digunakan oleh grup musik atau penyanyi pada peluncuran album perdana.

Album yang berisikan sebelas lagu ini, mengusung single andalan yang bertempo tidak terlalu cepat dengan judul When I’m Gone. Lagu andalan kali ini tidak terlalu berbeda dengan andalan di album sebelumnya yang mengusung tempo yang lebih ringan. Simple Plan tentu menyesuaikan pemilihan lagu andalan ini dengan selera pasar yang sedang tren sekarang. Tapi bukan berarti ciri khas band yang berasal dari Kanada ini langsung lenyap.

Jika Anda mendengarkan dengan lebih seksama, ciri khas musikalisasi mereka terdengar sangat khas. Gebukan drum Chuck Comeau cukup garang untuk menghidupkan lagu. Ada pula permainan gitar lengkap dengan distorsi bunyi milik Jeff Stinco.

Personel Simple Plan yang ikut menggarap album ketiga ini sama seperti di album-album sebelumnya. Vokalisnya masih tetap Pierre Bouvier. Jeff Stinco masih tetap bermain gitar, Chuck Comeau sebagai penabuh drum, Sebastien Lefebvre di posisi gitar dan backing vocal. Sedangkan David Desrosiers masih membetot senar bas.

Setelah pendengar menikmati lagu andalan bernuansa tempo yang ringan, di nomor kedua mereka langsung menunjukkan ciri khas yang sebenarnya. Take My Hand sebagai lagu kedua, bertempo cepat layaknya band punk. Sehingga seolah Simple Plan mengajak pendengarnya untuk langsung berdiri dan berjingkrak-jingkrak.

Lagu kedua ini sangat cocok sebagai awalan dalam konser live, karena ia bakal bisa menghidupkan suasana. Bayangkan saja, saat Simple Plan masuk panggung dan langsung menghajar penonton dengan Take My Hand, maka di depan panggung sudah pasti penuh dengan penonton yang berloncat-loncatan sembari mengacungkan tangan mereka.

Pierre Bouvier dan Sebastien Lefebvre bersama-sama mengisi vokal untuk lagu ketiga dan keempat, yang masing-masing berjudul The End dan Your Love Is a Lie. Mereka saling bersahut-sahutan membentuk komposisi yang cukup menarik dan bisa menarik perhatian. Sedangkan komposisi lagu Time To Say Goodbye hampir mirip dengan lagu-lagu milik blink 182. Tempo yang cepat berpadu dengan teriakan si vokalis, dengan iringan gebukan drum yang monoton. Saat-saat yang paling menarik terdengar di akhir lagu, di saat vokal Pierre Bouvier hanya berteman dengan denting gitar akustik.

Sedangkan lagu I can Wait Forever, meskipun tidak terlalu nge-beat, namun cukup membuat kaki bergoyang. Dan untuk lagu Holding On, jika kita cermati , lamat-lamat intronya agak mirip dengan lagu milik U2 yang berjudul I Still Haven’t Found What I’m Looking For. Tetapi saat memasuki lirik, kesan tersebut langsung hilang karena mereka kembali mengusung irama punk yang keras.

Teknik permainan gitar Jeff Stinco dan Sebastien Lefebvre yang cukup cantik muncul secara menonjol pada lagu No Love. Kerjasama Stinco dan Lefebvre menghasilkan komposisi suara gitar yang saling mengisi. Secara keseluruhan, Simple Plan masih tetap mengandalkan lirik-lirik lagu yang bertemakan cinta dalam album ketiga. Meskipun ada beberapa lagu yang memperjelas komitmen mereka untuk bertahan dalam aliran pop punk. Seperti untuk lagu Your Love Is a Lie dan No Love. Lirik kedua lagu tersebut menggambarkan tentang seseorang yang putus asa, dan tengah menyesali nasibnya. Ya, ini tema yang paling kerap menjadi favorit band punk modern.

Simple Plan pertama kali berdiri pada 1999 di sebuah sekolah di Montreal, Kanada. Semula, motor grup ini adalah Pierre Bouvier (vokal) dan beranggotakan Jeff Stinco (gitar), David Desrosiers (bas), Sebastien Lefebvre (gitar), and Chuck Comeau (drum). Dan mereka baru merilis album perdana pada 2002, yang berjudul No Pads, No Helmets…Just Balls. Di tahun yang sama meluncur pula album Live in Japan 2002. Dua tahun kemudian, mereka meluncurkan album kedua yang berjudul Still Not Getting Any. Tiga tahun kemudian, Simple Plan meluncurkan album live yang berjudul MTV Hard Rock Live 2005.

Kolektor Rokok: Menikmati Tanpa Membakar

Posted in Uncategorized on March 1, 2008 by menerimapesanan

BAGI sebagian orang, menghisap rokok merupakan kenikmatan tersendiri. Beberapa bilang, rokok adalah teman yang setia yang tak pernah mengeluh. Sebagian lagi bilang, rokok menjadi sumber inspirasi.

Bagi beberapa orang lainnya, ada pengalaman tersendiri dengan rokok. Segelintir orang bisamendapat kenikmatan rokok tetapi tanpa menghisapnya. Kepuasan mereka dapatkan dari  mengoleksi rokok.

Salah seorang yang mempunyai kebiasaan unik itu adalah Butet Kertarajasa. Seniman asal  Jogja ini  serius mengoleksi rokok sekitar tahun 2004. Tapi, sebenarnya ia sudah menyukai dan mengumpulkan gambar-gambar bungkus rokok sejak kecil. Caranya, ia menggunting gambar di bungkus rokok itu, lalu menempelkannya di buku. “Kebanggaannya, punya banyak gambar,” tutur pria yang juga perokok berat ini.

Butet mulai serius mengoleksi bungkus rokok saat ia mengunjungi ke Kediri, tahun 2004 itu. Ketika itu, ia kehabisan rokok. Saat mencari di warung-warung, ternyata rokok kesukaannya tidak ada. Yang ia temukan malah rokok yang mereknya tidak pernah ia kenal. Lantaran penasaran, Butet langsung memborong rokok-rokok tersebut. Saat perjalanan pulang dari Kediri ia masih terus memburu berbagai merek rokok. “Perjalanan yang seharusnya empat jam jadi delapan jam,” tambahnya. Di setiap perempatan ia berhenti untuk mencari rokok. Hasilnya? Butet menemukan 400 merek rokok.

Kolektor rokok lainnya adalah Sumbo Tinarbuko. Dosen mata kuliah Semiotika Iklan dan Penulisan Naskah Iklan di Jurusan Komunikasi FISIP Universitas Atmajaya Yogyakarta ini mulai mengoleksi rokok sejak tahun 1993. Sumbo juga mengumpulkan rokok-rokok yang tidak terkenal di pasaran dan harganya kurang dari Rp 5.000 per bungkus. “Saya menyebutnya rokok indie,” ujarnya.

Hobi mengoleksi rokok bermula saat Sumbo menjadi Dosen Pembimbing Lapangan Kuliah Kerja Nyata (DPL-KKN) ISI Yogyakarta, di daerah Kalibagor, Purwokerto, Jawa Tengah pada tahun 1993. Di sana, ia menemukan rokok berbentuk sigaret kretek dengan merek “Praoe Lajar”. Rokok itu menarik perhatiannya karena desain kemasan rokok itu sangat unik.

Bagi Sumbo dan Butet hobi ini tak sekadar buang-buang duit. Manfaat koleksi rokok indie bagi Sumbo adalah membantu pekerjaan. Sumbo menjadikan gambar-gambar unik di bungkus rokok sebagai alat peraga dalam mengajar komunikasi visual. Sementara Butet mengaku sering mendapatkan ide saat memandangi koleksi rokoknya. Ia pernah menemukan rokok yang di dalam kemasannya terdapat kata-kata “Rokok ini memakai tembakau sangat canggih dan cocok untuk kaum intelektual.” Kalimat slogan ini justru memunculkan ide menulis di benak Butet.

Selama berburu rokok, Butet menjadi mahfum karakter warung penjual rokok. Warung yang bersih dan menggunakan etalase stainless steel, pasti tak menjual rokok unik. Rokok unik hanya ada di warung yang menggunakan etalase kayu. Saat ini, koleksi Butet mencapai 4.000 merek. Sedangkan Sumbo sudah mengumpulkan 600-an berbagai merek rokok.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.