Menjelang akhir pekan, warga kota Jakarta biasanya sudah sibuk mencari tempat-tempat hangout yang mengasyikkan. Ada banyak tempat yang bisa anda singgahi di tengah gemerlapnya ibu kota yang tak pernah berhenti beraktivitas ini. Rata-rata semua tempat menyajikan konsep yang tak jauh berbeda. Tapi kalau mau menikmati malam panjang yang sedikit berbeda, Anda bisa menyambangi Public yang ada di komplek Taman Ria Senayan. Nuansa alami bisa langsung anda rasakan saat mulai menapakkan kaki disana.
MENDAPATAN suasana yang alami di tengah-tengah hiruk pikuk kota Jakarta bukan hal mudah. Pusat kota sudah penuh oleh gedung bertingkat. Hampir semua tempat hangout di pusat Jakarta pun berada di gedung-gedung jangkung tersebut.
Selain kesamaan lokasi, kebanyakan tempat hangout itu juga punya kemiripan yang lain, mulai dari suasana ataupun pilihan musik, yaitu house yang menderu kencang. Nah, jika ingin menikmati suasana malam panjang di akhir pekan dengan lebih tenang, Public layak menjadi bahan pertimbangan.
Pengelola Public berupaya tampil berbeda dengan membuat interior ruang yang agak unik. Saat memasuki ruangan, Anda akan menemukan tembok yang dibiarkan tanpa cat. Lantai pun dibiarkan telanjang tanpa balutan ubin maupun lantai kayu alias parket, hanya plesteran semen biasa. “Tapi hal ini, malah yang menjadi salah satu ciri khas dari tempat ini. Hanya kami yang mengusung konsep seperti ini,” kata General Manager Public Yuda Dewantara.
Sekilas, bisa muncul kesan bangunan yang belum jadi. Namun jangan salah, di dalam Public Anda akan mendapatkan nuansa klub yang cukup nyaman dan bersahabat. Pencahayaan yang minim plus dentuman musik house dengan aliran easy listening dari disc jockey (DJ) langsung menyambut Anda.
Ruangan Public cukup luas, meja bar memanjang dengan beberapa lilin untuk menerangi. Di belakangnya berdiri beberapa bartender yang siap melayani dengan atraksi lempar botolnya saat membuatkan pesanan tamu.
Secara garis besar, ruangan di dalam Public terbelah menjadi dua oleh kaca bening. Jadi, meskipun terpisah, satu bagian dengan bagian masih terlihat menyatu. Nah, di ruang pertama adalah ruangan ber-AC. Di bagian depan terdapat DJ yang siap memainkan musik. Ruang ini juga tertata beberapa sofa yang cukup nyaman untuk melepas kepenatan.
Ruangan yang kedua cukup unik. Satu sisinya dibiarkan terbuka. Menariknya di sisi yang terbuka tersebut anda bisa langsung menikmati pemandangan danau yang ada di dalam komplek Taman Ria Senayan. Jadi anda tak bakalan sesak dengan kepulan asap rokok, anda bahkan bisa menghirup segarnya udara malam Jakarta. tinggal berharap saja tidak akan turun hujan, soalnya jika hujan turun dan angin mengarah ke dalam sudah pasti sisi tersebut cukup basah.
Bicara tentang konsep, memang Public menyajikan suatu yang lain. Tapi kalau bicara tentang minuman, tidak ada yang sangat spesial. Pilihan di Public tak jauh berbeda dengan tempat hangout lain. Ada Jack Daniel atau Chivas Regal untuk Whiskey. Sedangkan untuk coktail, yang paling banyak diminati adalah campuran Martini.
Kisaran harga minuman di Public tak banyak beda dengan tempat hangout lain. Banderol harga segelas minuman antara Rp 30.000 sampai dengan Rp 70.000. Sementara untuk botolan, harga paling murah Rp 300.000 hingga termahal Rp 3,5 juta. Harga yang wajar memang, tetapi jangan takut, Public sering mengadakan promosi, seperti buy one get two atau potongan harga untuk gelas atau botol kedua.
Sebelum menyambangi tempat ini, sebaiknya Anda mengisi perut dulu. Sebab hingga saat ini Public belum menyediakan makanan. Tetapi meskipun begitu, anda masih pesan makanan kok. Public akan memesankannya ke dapur Front Row yang lokasinya di atas Public.
Maaf, Hanya Untuk 20+
Sebenarnya Public bukanlah tempat yang baru. Namun dari masa ke masa mengalami perubahan nama sekaligus juga konsep, tetapi masih di bawah kepemilikan dan manajemen yang sama.” tutur Yuda Dewantara, General Manager Public.
Pertama kali berdiri di tahun 2000 dengan nama Mana Lounge, “Saat itu konsep yang diusung adalah outlane wine,” tuturnya. Dengan sedikit berpormosi Yuda mengatakan bahwa di tahun 2000 itu Mana Lounge merupakan tempat yang menyajikan wine terlengkap di Jakarta. Baru setelah itu muncul beberapa wine lounge yang lainnya. Karena menyajikan wine maka target marketnya adalah kalangan eksekutif.
Namun karena pasarnya menurun maka Mana Lounge berganti konsep di awal 2004. Namanya pun turut berubah menjadi Manna House. Dan kemudian pada awal tahun 2007 mengalami perubahan lagi menjadi bernama Public. Konsep yang diusung oleh Public adalah club yang nyaman. Target marketnya sekarang adalah eksekutif muda.




