Tempat Bermain yang Bisa Jadi Penitipan

Posted in Features on May 1, 2011 by menerimapesanan

Sore itu, di sebuah arena permainan yang ada di sebuah mall di Jakarta Barat, jerit kegirangan beberapa anak terdengar riuh. Mereka berlarian dari satu permainan ke permainan lainnya. Sesekali terdengar suara orang dewasa mengingatkan agar si anak agar tak salah melangkah, atau tak menakali teman mainnya.

Beberapa orang tua duduk di luar arena mengawasi anak-anak mereka bermain di arena tersebut. Beberapa menapakkan wajak cemas, takut sesuatu terjadi pada anak mereka. Beberapa lainnya ikut hanyut dalam kegembiraan anak-anaknya.

Di arena itu menyediakan berbagai macam permainan untuk anak-anak. Misalnya saja arena mandi bola. Arena tersebut berbentuk setengah lingkaran. Di salah satu pojoknya terdapat prosotan berbentuk pipa berwarna merah menyala,  berdiameter sekitar satu meter yang bermuara di arena mandi bola tersebut. Jadi ketika anak-anak tersebut meluncur akan disambut dengan puluhan bola pastik warna-warni yang sama ukurannya dengan bola tenis.

Adalah Fantasy Kingdom, sebuah arena bermain untuk anak-anak yang terdapat di Ciputra Mall, Jakarta Barat. Arena bermain tersebut memang dikhususkan untuk anak-anak yang berusia kurang dari 12 tahun. Berisikan bermacam-macam permainan untuk mengasah ketrampilan anak. Banyak permainan yang disediakan di tempat itu, adventure playground, mandi bola, prosotan atau beberapa permainan lainnya.

Budi Santosa, supervisor arena permainan Fantasy Kingdom mengatakan bahwa semua anak-anak yang berumur kurang dari 12 tahun dapat bermain di arena tersebut. “Untuk anak-anak yang memang masih kecil, mereka boleh didampingi oleh pengasuhnya.” tambah Budi. Sedangkan anak-anak yang tidak didampingi oleh pengasuhnya, mereka akan didampingi oleh karyawan Fantasy Kingdom.

Berbagai permainan sudah dirancang sedemikian rupa sehingga aman untuk anak-anak. Bahan-bahannya kebanyakan dari karet atau plastik. Beberapa rangka memang dari bahan fiber, tetapi tetap dibalut dengan karet. Sehingga jika anak-anak terpeleset atau terbentur tidak akan sakit.”Kami selalu memberikan pengarahan kepada orang tua kalau permainan ini beresiko.” ungkab Budi. Tetapi meskipun begitu sampai saat ini tidak ada kecelakaan berat yang terjadi.

Dalam sehari arena tersebut dikunjungi setidaknya 30 sampai dengan 50 anak. Tetapi jika akhir pekan, pengunjung dapat membludak hingga dua kali lipatnya. Budi juga menuturkan, jika hari biasa, anak-anak bisa dititipkan di arena tersebut, sedangkan orang tuanya bisa meninggalkan untuk berbelanja atau sekedar berjalan-jalan di mall. “Tapi kalo sabtu dan minggu kami tidak melayani.” ujar Budi.

Untuk dapat bermain selama setengah jam, mereka harus mengeluarkan biasa sebesar Rp 15.000. Tetapi biasanya tak jarang anak-anak yang bermain lebih dari satu jam. Jika dihitung, dalam sehari Fantasy Kingdom didatangi 50 anakdengan tarif Rp 15.000 per anak. Jika mereka bermain selama satu jam berarti total omset mereka adalah Rp 1,5 juta. Berarti dalam sebulan mereka memperoleh omset Rp 45 juta.

Kebanyakan karyawannya memang sudah berkeluarga dan mempunyai anak sehingga memudahkan mereka untuk mengerti apa yang dimaui oleh anak-anak. Sesekali, jika anak-anak itu tak ingin pulang, mereka harus membujuk dengan bahasa anak-anak pula. Karena hal itulah Fantasy Kingdom mempunyai pelanggan setia.

Jalur Busway Bikin Pendapatan Menurun

Posted in Features on May 1, 2011 by menerimapesanan

Deretan pelek terpampang rapi di atas rak kayu. Berbagai merek ada di sana, TFT Racing, Brabus, Wald dan beberapa lainnya. Semua nampak mengkilat seperti baru keluar dari pabriknya. Padahal sebenarnya pelek-pelek tersebut merupakan pelek bekas.

Seorang pria dengan kaos oblong putih yang sudah lusuh terlihat sibuk berbicara kepada pria berpenampilan rapi. Si kaos oblong terlihat menawarkan angka kepada si rapi. Si rapi tidak setuju, ia menawarkan angka yang lainnya. Keduanya terlihat saling ngotot mempertahankan angka masing-masing. Tapi akhirnya si kaos mengangguk, meskipun sebelumnya terlihat lama berpikir.

Keduanya bersalaman. Tak lama kemudian si rapi menyerahkan berlembar-lembar uang ratusan ribu kepada si kaos oblong. Dan si kaos oblong menaikkan sebuah pelek ke dalam mobil kijang si rapi. “Dia nawarnya keterlaluan sih, jadi lama saya lepasnya.” ungkap si kaos oblong yang ternyata bernama Herman Hardian Saputra.

Herman adalah penjual pelek bekas untuk mobil yang nongkrong di daerah Simprug, Jalan Tengku Nyak Arif, Kebayoran, Jakarta Selatan. Herman bercerita bahwa dia sudah berjualan di tempat itu sejak tahun 1997.

Untuk mendapatkan pelek tersebut ada orang yang langsung menjual kepadanya. Tetapi selain itu ada juga yang secara rutin mengantarkan kepadanya. Jika menerima pelek cacat, Herman akan memperbaikinya terlebih dahulu. Pelek peyang akan ia pres dulu di daerah Palmerah. Sedangkan pelek yang pecah atau retak ia tambal ke bengkel las aluminium di daerah Fatmawati. Setelah diperbaiki, baru kemudian pelek tersebut dicat dan siap dipajang.

Biasanya, ia menjual 4 buah pelek untuk satu setnya. Tetapi kadang-kadang jika ia mendapat yang satu set yang isinya  lima. Untuk eceran, ia juga melayani. Tetapi si pembeli tidak bisa langsung mendapatkannya. Pembeli harus menunggu sejenak karena Herman harus mengambilnya dulu di gudang di daerah Palmerah. “Semua penjual di daerah sini gudangnya sama.” ungkap Herman. Yang dimaksud oleh Herman gudang ini adalah toko yang bisa menjual pelek secara eceran. Jadi Herman tinggal menelpon pemilik toko dan menanyakan apakah mempunyai persediaan yang diinginkan pembeli. Jika ada, ia akan langsung  mengambilnya.

Tentu saja untuk harga satuan lebih mahal jika membeli satu set. Saipul yang baru tiga bulan berjualan pelek mengatakan kalau menjual pelek sama seperti berjualan di pasar.”Kalau eceran harganya tentu mahal, kalau borongan pasti lebih murah.” katanya sambil tertawa.

Saipul yang memilih membuka toko di daerah Permata Hijau ini menambahi bahwa jika dibandingkan harga satu set yang telah dibagi empat, harga eceran lebih mahal Rp 200 ribu.

Singgih Santosa, seorang pembeli pelek eceran di kios Herman menyebutkan alasannya membeli eceran karena saat ia membeli satu set pelek di tempat lain ia hanya mendapatkan empat buah. Sedangkan untuk cadangannya ia tak mendapatkannya. Oleh karena itu ia mencarinya di tempat Herman untuk ban serepnya. “Untung langsung dapet, kalo harus pesen dulu katanya harganya lebih mahal lagi.” Ucap Singgih.

Agus Sunarya, yang berjualan tak jauh dari tempat Herman membenarkan hal tersebut. Di tempatnya berjualan memang melayani pembelian pelek secara eceran selain itu juga melayani untuk pemesanan. Dia pesan tipenya, kita carikan. Kata Agus. Biasanya untuk harga pelek pesanan lebih tinggi Rp 100 sampai Rp 200 ribu.

Rata-rata satu set pelek bekas dengan ukuran ring 14 inci, mereka membelinya dengan Rp 1 hingga 1, 5 juta. Kemudian mereka akan menjualnya dengan harga Rp 1,5 sampai dengan 2 juta. Keuntungan yang mereka peroleh kurang lebih Rp 500 ribu untuk satu set pelek. Harga tersebut sudah termasuk biaya pemasangan.

Dalam sehari mereka setidaknya bisa menjual satu set pelek. Meskipun kadang-kadang bisa lebih atau kurang. Bayangkan saja pendapatan yang bisa diperoleh mereka. Dalam sehari mereka mendapatkan Rp 500 ribu, berarti dalam satu bulan atau 30 hari mereka mendapatkan Rp Rp 15 juta rupiah. Tetapi pendapatan tersebut masih pendapatan kotor, karena belum dipotong dengan biaya reparasi pelek yang rusak, ongkos pasang dan juga untuk membayar pegawai.

Menurut Herman, pembelinya kebanyakan mereka yang mempunyai mobil Kijang, Avanza atau Senia. Oleh karena itu ia banyak menyediakan pelek-pelek yang berukuran 14 sampai dengan 15 inci. Selain itu Herman juga banyak menyediakan pelek-pelek bekas Mercedes. “Mereka ke sini sekalian bawa tromolnya.” ungkap herman.

Soalnya kebanyakan mobil yang datang ketempatnya membunyai 4 buah baut. Sedangkan untuk pelek Mecedes mempunyai 5 buah baut. Oleh karena itu mereka yang membeli pelek Mercedes meminta Herman untuk menggantikan tromolnya sekalian. “Nggak ada biaya tambahan.” katanya.

Sedangkan Kios milik Agus banyak menyediakan pelek-pelek yang mempunyai ukuran lebih besar. “Yang datang ke sini kebanyakan sedan, jadi pada cari yang ukurannya 17 inci ke atas” ungkap Agus.

Herman dan Agus membuka kiosnya 24 jam. Sedangkan Saipul, lebihmemilih membuka kiosnya dari jam sembilan pagi hingga sore.”Tutupya tergantung rame sepinya sih.” tuturnya.

Selain itu jika di tempat Herman dan juga Agus hanay menyediakan pelek bekas saja, tempat Saipul juga menyediakan pelek baru. Ternyata antara pelek bekas dan baru harganya tak terlalu beda jauh. Saipul mengatakan bahwa untuk satu set pelek dengan merek yang sama ukuran 14 inci ia menjualnya dengan harga sekitar Rp 1,5 juta. Sedangkan untuk pelek baru ia menjualnya dengan harga Rp 2 jutaan.

Herman dan juga Agus bercerita bahwa adanya jalur busway yang melewati kios mereka berdampak buruk bagi penjualan.
Karena kios mereka yang berkuran kurang lebih 8×2 meter hanya menempati trotoar saja, otomatis orang yang ingin melihat pelek hanya bisa parkir di bahu jalan saja.” Kalo pada parkir sudah pasti akan tambah macet, jadi orang males buat berhenti.” tutur Herman. Oleh karena itu saat ini kebanyakan pembeli mereka datang pada malam hari saat jalan sudah tidak macet lagi. “Tapi ya yang beli jadinya sekarang lebih sedikit.” tutur Agus mengeluh.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.