menerima pesanan

May 9, 2008

Menghabiskan Malam Akhir Pekan di Pinggir Danau

Filed under: Hangout — menerimapesanan @ 8:20 pm

Menjelang akhir pekan, warga kota Jakarta biasanya sudah sibuk mencari tempat-tempat hangout yang mengasyikkan. Ada banyak tempat yang bisa anda singgahi di tengah gemerlapnya ibu kota yang tak pernah berhenti beraktivitas ini. Rata-rata semua tempat menyajikan konsep yang tak jauh berbeda. Tapi kalau mau menikmati malam panjang yang sedikit berbeda, Anda bisa menyambangi Public yang ada di komplek Taman Ria Senayan. Nuansa alami bisa langsung anda rasakan saat mulai menapakkan kaki disana.

 
MENDAPATAN suasana yang alami di tengah-tengah hiruk pikuk kota Jakarta bukan hal mudah. Pusat kota sudah penuh oleh gedung bertingkat. Hampir semua tempat hangout di pusat Jakarta pun berada di gedung-gedung jangkung tersebut.

Selain kesamaan lokasi, kebanyakan tempat hangout itu juga punya kemiripan yang lain, mulai dari suasana ataupun pilihan musik, yaitu house yang menderu kencang. Nah, jika ingin menikmati suasana malam panjang di akhir pekan dengan lebih tenang, Public layak menjadi bahan pertimbangan.

Pengelola Public berupaya tampil berbeda dengan membuat interior ruang yang agak unik. Saat memasuki ruangan, Anda akan menemukan tembok yang dibiarkan tanpa cat. Lantai pun dibiarkan telanjang tanpa balutan ubin maupun lantai kayu alias parket, hanya plesteran semen biasa. “Tapi hal ini, malah yang menjadi salah satu ciri khas dari tempat ini. Hanya kami yang mengusung konsep seperti ini,” kata General Manager Public Yuda Dewantara.

Sekilas, bisa muncul kesan bangunan yang belum jadi. Namun jangan salah, di dalam Public Anda akan mendapatkan nuansa klub yang cukup nyaman dan bersahabat. Pencahayaan yang minim plus dentuman musik house dengan aliran easy listening dari disc jockey (DJ) langsung menyambut Anda.

Ruangan Public cukup luas, meja bar memanjang dengan beberapa lilin untuk menerangi. Di belakangnya berdiri beberapa bartender yang siap melayani dengan atraksi lempar botolnya saat membuatkan pesanan tamu.

Secara garis besar, ruangan di dalam Public terbelah menjadi dua oleh kaca bening. Jadi, meskipun terpisah, satu bagian dengan  bagian masih terlihat menyatu. Nah, di ruang pertama adalah ruangan ber-AC. Di bagian depan terdapat DJ yang siap memainkan musik. Ruang ini juga tertata beberapa sofa yang cukup nyaman untuk melepas kepenatan.

Ruangan yang kedua cukup unik. Satu sisinya dibiarkan terbuka. Menariknya di sisi yang terbuka tersebut anda bisa langsung menikmati pemandangan danau yang ada di dalam komplek Taman Ria Senayan. Jadi anda tak bakalan sesak dengan kepulan asap rokok, anda bahkan bisa menghirup segarnya udara malam Jakarta. tinggal berharap saja tidak akan turun hujan, soalnya jika hujan turun dan angin mengarah ke dalam sudah pasti sisi tersebut cukup basah.

Bicara tentang konsep, memang Public menyajikan suatu yang lain. Tapi kalau bicara tentang minuman, tidak ada yang sangat spesial. Pilihan di Public tak jauh berbeda dengan tempat hangout lain. Ada Jack Daniel atau Chivas Regal untuk Whiskey. Sedangkan untuk coktail, yang paling banyak diminati adalah campuran Martini.

Kisaran harga minuman di Public tak banyak beda dengan tempat hangout lain. Banderol harga segelas minuman antara Rp 30.000 sampai dengan Rp 70.000. Sementara untuk botolan, harga paling murah Rp 300.000 hingga termahal Rp 3,5 juta. Harga yang wajar memang, tetapi jangan takut, Public sering mengadakan promosi, seperti buy one get two atau potongan harga untuk gelas atau botol kedua. 

Sebelum menyambangi tempat ini, sebaiknya Anda mengisi perut dulu. Sebab hingga saat ini Public belum menyediakan makanan. Tetapi meskipun begitu, anda masih pesan makanan kok. Public akan memesankannya ke dapur Front Row yang lokasinya di atas Public.

Maaf, Hanya Untuk 20+
Sebenarnya Public bukanlah tempat yang baru. Namun dari masa ke masa mengalami perubahan nama sekaligus juga konsep, tetapi masih di bawah kepemilikan dan manajemen yang sama.” tutur Yuda Dewantara, General Manager Public.

Pertama kali berdiri di tahun 2000 dengan nama Mana Lounge, “Saat itu konsep yang diusung adalah outlane wine,” tuturnya. Dengan sedikit berpormosi Yuda mengatakan bahwa  di tahun 2000 itu Mana Lounge merupakan tempat yang menyajikan wine terlengkap di Jakarta. Baru setelah itu muncul beberapa wine lounge yang lainnya. Karena menyajikan wine maka target marketnya adalah kalangan eksekutif.

Namun karena pasarnya menurun maka Mana Lounge berganti konsep di awal 2004. Namanya pun turut berubah menjadi Manna House. Dan kemudian pada awal tahun 2007 mengalami perubahan lagi menjadi bernama Public. Konsep yang diusung oleh Public adalah club yang nyaman. Target marketnya sekarang adalah eksekutif muda.

May 8, 2008

Nikmatnya Makan Gulai Jerohan Kambing Subuh-Subuh

Filed under: Kuliner — menerimapesanan @ 8:00 am

Anda baru pulang dugem dan merasa lapar? Atau Anda harus berangkat kerja pagi tetapi belum sempat sarapan di rumah? Cobalah menyempatkan diri untuk mampir sebentar di warung gulai jeroan kambing milik Pak Marto di Jalan Barito. Gulai di sana porsinya pas, harganya murah, rasanya bikin lidah bergoyang. Alunan gending Jawa dari radio akan menemani Anda mencicipi masakan yang terasa nendang. Tetapi ingat, jangan terlalu sering mengudap di sini jika Anda punya masalah kolesterol tinggi.

JIKA kita bertanya pada warga Jakarta, di mana kedai gulai yang menjadi andalan, jawabannya sudah pasti Gultik Bulungan alias gule tikungan yang terletak di bunderan Bulungan, Jakarta Selatan. Di sana berderet-deret kedai gulai yang akrab bagi gerombolan anak-anak muda. Maklum saja, jajaran kedai tersebut buka selama 24 jam. Jadi, selain sebagai tempat makan, juga bisa sebagai tempat nongkrong.

Tetapi namanya sebagai tempat nongkrong, kualitas rasa menjadi nomor dua. Harganya pun tak sebanding dengan jumlah porsinya. Nah, jika anda menginginkan gulai dengan citarasa tinggi tetapi dengan harga nyaman di kantong, coba kunjungi kedai gulai milik Bapak Marto Prawiro yang tak jauh dari Bulungan juga. Letaknya di Jalan Barito, tepatnya di depan Hero Barito. Tapi sayangnya kedai ini tak bisa Anda kunjungi sembarangan waktu. Soalnya jam bukanya sedikit aneh, dari jam empat subuh hingga dagangan habis atau sekitar jam delapan pagi.

Marto, sang pemilik kedai, mengaku sudah berjualan gulai di Jakarta sejak tahun 1960. Sebelum menepati lokasinya yang sekarang, Marto membuka kedai di Taman Barito. “Tetapi tak lama berjualan di sana, saya disuruh pindah ke sini,” tutur Marto. Pria yang berasal dari Sukoharjo, Jawa Tengah itu mengaku, termasuk salah seorang pionir dalam berjualan gulai di daerah selatan. Ngomong-ngomong soal rasa, tentu sebaiknya Anda mencicipi sendiri. Tetapi, pengunjung kedai Marto biasanya terkesan pada kunjungan pertama.

Setiap pengunjung yang datang langsung mendapat segelas teh tawar hangat dan sepiring kerupuk. Selanjutnya, Marto dan sang anak akan meracik gulai. Sebuah piring tertutup nasi mengepul panas dengan irisan jeroan kambing. Kuah gulai baru kemudian diguyur ke dalam piring. Untuk menambah rasa, jangan lupa menambahkan bawang goreng dan kucuran jeruk nipis. Jika ingin tambahan pedas atau manis, di meja sudah tersedia sambal dan kecap manis. Jangan terlalu banyak mengambil sambal, karena sesendok saja akan membuat rasa pedas menempel di lidah Anda. Jika kebanyakan Anda pasti berkeringat habis. Anda jangan berharap bisa memesan teh botol dingin atau air mineral dingin, soalnya kedai ini hanya menyediakan teh tawar hangat saja.

Rasa gulai sangat kental. Di suapan pertama pun, sudah terasa dahsyatnya. Kombinasi nasi yang pulen dengan irisan jeroan kambing yang gurih dan lembut akan membuat Anda tak berhenti menyendok hingga isi piring tandas. “Anda tak bakal mencium bau prengus kambing di sini,” tutur Marto. Memang, biasanya masakan kambing akan selalu bernuansa bau tak sedap. Tetapi di gulai racikan Marto, bau tak sedap kambing sama sekali lenyap. Marto tak mau mengungkapkan apa resep dari gulainya, ”Pokoknya racikan khas rahasia keluarga,” ungkapnya sambil tertawa.

Dalam sehari kedai Marto bisa menyajikan lebih dari 150 porsi gulai. Dengan merogoh kocek sebesar Rp 5.000 saja, Anda sudah bisa menikmati sepiring nasi gulai plus sepiring kerupuk dan teh tawar hangat. Harga ini tergolong murah apabila dibandingkan dengan harga gulai serupa di kawasan Bulungan yang umumnya Rp 7000 per porsi. Marto mengingat, saat pertama kali berjualan di Jakarta, ia menjual gulainya seharga Rp 15. Meskipun harganya murah, jangan Anda jadi terlena. Jangan lupa menjaga kadar kolesterol Anda.

Buat yang Pulang Dugem Atau Berangkat Kerja
karena jam bukanya yang sedikit aneh yaitu dari jam empat subuh hingga kurang lebih jam delapan pagi, pengunjung kedai Marto pun tak bisa ditebak. Yaitu orang yang pulang dari dugem atau mereka yang akan berangkat kerja. Marto bercerita bahwa saat ia sedang bersiap-siap pun sudah banyak orang yang menunggu, “Mereka pada nunggu di dalam mobil,” tuturnya dengan logat Jawa medok.

Mungkin mereka yang tak beranjak keluar dari mobil merasa tak akrab dengan musik yang disajikan oleh Marto. Setiap berjualan pria yang sudah agak bungkuk ini selalu memasang gelombang radio Safari yang melantunkan kembang-tembang Jawa. Seorang pengunjung di kedai Marto mengatakan bahwa hangatnya the tawar dan pedasnya gulai bisa membuat sadar dan menghilangkan rasa mabuk.

Beranjak agak terang, pengunjung kedai Marto berubah. Yaitu orang-orang yang akan berangkat kerja. Mulai dari supir bajaj hingga pekerja kantoran yang menggunakan mobil sedan mewah, “Kadang sampai nggak ada lagi tempat parkir,” ungkap Marto bercerita.

Next Page »

Blog at WordPress.com.